Tulisan Berjalan

اللهم صل على سيدنا محمد

Minggu, 08 Juli 2012

Hukum Islam Mengenai Bangkai


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ فَأْرَةٍ سَقَعطَتْ فِي سَمْنٍ، فقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :أَلْقُوْهَا وَمَا حَوْلَهَا فَاطْرَحُوهُ وَكُلُوا سَمْنَكُمْ
( رواه البخاري)
“Sungguh Rasulullah SAW ditanya mengenai bangkai tikus yang jatuh kedalam minyak goreng (minyak goreng yang beku), maka bersabda Rasulullah SAW: buang bangkai itu dan buang minyak yang disekitarnya, maka minyak itu boleh kalian makan (karena bangkai dan minyak yang disekitarnya sudah dibuang, maka sisa minyak tetap suci berbeda dengan air atau minyak yang cair) ( Shahih Bukhari)
Penjelasan hadits oleh Al Habib Ja’far bin Muhammad Baqir Al Atthas
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله سيدنا محمد ابن عبد الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ، أما بعد
Hadits ini diriwayatkan oleh sayyidah Maimunah binti Al Harits, salah seorang istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang terakhir dinikahi oleh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadits ini menjelaskan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang hukum seekor tikus yang jatuh ke dalam minyak yang sangat kental/ beku (mentega), dan hal ini merupakan kekhususan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang mana telah diberi Jawamii’ al kalim (bahasa yang ringkas namun memiliki makna yang sangat luas), yang mana dalam hadits ini yang dimaksud bukan hanya bangkai tikus akan tetapi semua bangkai yang jatuh ke dalam sesuatu yang padat, yaitu bukan sesuatu yang berupa cairan atau air. Dalam pembahasan Fiqih ada air dan ada cairan, dimana jika air sedikit (kurang dari dua qullah) dan kejatuhan najis maka air tersebut hukumnya mutanajjis (terkena najis), adapun jika airnya banyak (Dua kulah atau lebih) kejatuhan najis dan tidak berubah warna, bau dan rasanya maka air tesebut hukumnya tetap suci dan mensucikan. Adapun cairan dalam pembahasan ilmu Fiqih, jika suatu cairan, seperti minyak goreng, susu, dan lainnya meskipun sedikit atau banyak kemudian kejatuhan najis maka cairan tersebut menjadi mutanajjis. Begitu juga dalam hadits ini tidak hanya berlaku pada mentega saja, akan tetapi termasuk pula segala sesuatu yang padat seperti kue, keju padat, dan makanan-makanan padat yang lainnya jika kejatuhan najis maka hukumnya sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berikut ini :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ فَأْرَةٍ سَقَعطَتْ فِي سَمْنٍ، فقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :أَلْقُوْهَا وَمَا حَوْلَهَا فَاطْرَحُوهُ وَكُلُوا سَمْنَكُمْ
( رواه البخاري)
“ Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang seekor tikus (bangkai) yang jatuh ke dalam mentega, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “buanglah tikus itu dan ambillah sekitar tikus itu, dan makanlah mentegamu itu”
Maka sesuatu atau makanan yang padat jika terkena najis yaitu dengan membuang najis tersebut dan membuang sekitar najis tersebut, kemudian sisanya bisa dimakan. Dalam hadits ini banyak kesimpulan yang diambil oleh para Ulama’ Syafi’iyyah (bermadzhab Syafi’i) diantaranya adalah yang berkaitan dengan sesuatu yang najis dan dalam hadits ini adalah bangkai tikus, namun yang dimaksud tidak hanya bangkai tikus. Dalam pembahasan Fiqh bangkai adalah semua hewan atau binatang yang mati tidak dengan cara yang disyariatkan dalam agama Islam, dimana hewan terbagi menjadi dua bagian, yaitu hewan yang boleh dimakan dan hewan yang tidak boleh dimakan. Adapun hewan yang boleh dimakan jika mati dengan cara disembelih sesuai dengan syariat Islam maka hewan ini disebut sebagai madzbuhah ( hewan yangdisembelih sesuai dengan syariat Islam), namun jika hewan itu mati bukan dengan disembelih sesuai dengan syariat Islam maka disebut sebagai maitah (bangkai), sedangkan hewan yang tidak boleh dimakan jika mati, baik karena disembelih sesuai dengan syariat atau tidak maka disebut sebagai maitah (bangkai) seperti kucing dan lainnya yang tidak dihalalkan untuk dimakan. Hal lain yang dapat diambil dari hadits ini adalah mutanajjis (sesuatu yang terkena najis) yang mungkin berupa air, cairan atau benda padat. Jika yang kejatuhan najis adalah air, dan air itu sedikit (kurang dari 2 qullah) maka air tersebut hukumnya adalah mutanajjis, adapun jika airnya banyak (2 qullah atau lebih) kemudian kejatuhan najis dan salah satu sifatnya (warna,bau dan rasanya) tidak berubah maka air tersebut hukumnya tetap suci dan mensucikan. Dan jika mutanajjis (sesuatu yang terkena najis) adalah suatu cairan selain air meskipun sedikit atau banyak maka hukumnya menjadi mutanajjis. Selanjutnya jika yang terkena najis adalah benda padat seperti mentega, keju padat maka hukumnya seperti hadits yang disebutkan diatas, yaitu dengan membuang bangkai atau najis tersebut serta membuang sekitar yang terkena najis , adapun sisanya tetap suci dan boleh dimanfaatkan atau dimakan.
Kita ketahui yang dimaksud najis adalah segala sesuatu yang mencegah sahnya shalat, namun mengapa bangkai juga termasuk kedalam pembahasan ini?, maka Al Imam An Nawawi menjelaskan bahwa definisi najis bukan hanya hal yang mencegah sahnya shalat saja, namun segala sesuatu yang menjijikkan, seperti bangkai yang secara mutlaq diharamkan untuk dimanfaatkan, baik dimakan atau diminum dan bukan dalam keadaan darurat, karena jika dalam keadaan darurat seperti kelaparan dan tidak ada sesuatu yang bisa dimakan, maka dalam hal ini diperbolehkan untuk memakan bangkai namun hanya sekedarnya saja untuk menahan agar tetap hidup, bukan memakannya hingga kenyang. Adapun bangkai terbagi menjadi dua, yaitu bangkai yang dimaafkan dan bangkai yang tidak dimaafkan. Bangkai yang dimaafkan adalah bangkai yang darahnya tidak mengalir, dan hewan tersebut lebih kecil dari tikus, diantara pendapat ada yang mengatakan seperti tokek atau cicak yang mana jika dibelah bagian tubuhnya maka tidak akan mengalirkan darah, maka jika bangkai ini jatuh ke dalam air, benda cair atau benda padat hukumnya ma’fu ‘anhu (dimaafkan), adapun bangkai yang darahnya mengalir maka hukumnya seperti yang tadi telah disebutkan.
وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه ، والعفو منكم
Tausiyah Al Habib Munzir Al Musawa
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Malam Selasa lalu telah disampaikan tentang Istighfar Rajab, yaitu :
رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَارْحَمْنِيْ وَتُبْ عَلَيَّ
“ Ya Allah ampunilah aku, dan sayangilah aku, serta terimalah taubatku”
Maka amalkanlah semampunya, bisa dibaca setelah shalat Subuh dan setelah shalat Asar, atau setelah Subuh dan setelah Maghrib, atau setelah shalat Subuh dan setelah shalat Isya’. Begitu juga salah satu kemuliaan di bulan Rajab ini adalah kita telah mendapatkan cinta Allah subhanahu wata’ala, yaitu berupa ibadah shalat yang mana merupakan bentuk cinta Allah subhanahu wata’ala kepada kita hamba-hambaNya. Tidak akan ditemui makhluk di dunia ini di segala penjuru barat dan timur yang mencintai orang lain hingga ingin menghadapnya sebanyak 50 kali sehari, hanya Allah subhanahu wata’ala yang mau menerima hambaNya untuk bertemu denganNya sebanyak 50 kali sehari, yang mana bukan hanya mau menerima bahkan meminta dan mewajibkan hal tersebut kepada hamba-hambaNya. Maka ketika ibadah shalat diperintahkan sebanyak 50 kali dalam sehari, nabi Musa As berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa ummatnya tidak akan mampu melakukan hal tersebut, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi kembali berulang-ulang kepada Allah yang kemudian shalat tersebut hanya menjadi 5 kali sehari, namun pahalanya sama dengan pahala shalat 50 kali. Dijelaskan oleh guru mulia Al Musnid Al Arif Billah Al Habib Umar bin Hafidh bahwa datangnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Allah subhanahu wata’ala secara berulang-ulang, hal tersebut diinginkan oleh Allah agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dapat berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala berkali-kali, padahal Allah subhanahu wata’ala telah mengetahui bahwa shalat itu akhirnya akan menjadi sebanyak 5 kali sehari, namun Allah subhanahu wata’ala ingin menunjukkan kadar kecintaan Allah kepada hambaNya, bahwa Allah ingin berjumpa dengan hambaNya sebanyak 50 kali dalam sehari, dan sampai dimana kadar kecintaan hambaNya kepada Allah subhanahu wata’ala, namun sangat disayangkan banyak orang hidup dan telah mencapai usia 80 atau 90 tahun namun belum pernah terlintas sedetik pun dalam benaknya akan rindu kepada Allah subhanahu wata’ala, wal’iyadzubillah. Allah subhanahu wata’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ ، الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ
( الإنفطار : 6-7 )
“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang”. ( QS. Al Infithaar: 6-7 )
Apa yang membuat manusia berpaling dari Allah Yang Maha Pemurah, dan lebih memilih cinta kepada selainNya, lebih memilih mengingat kepada selainNya, padahal telah dijanjikan bahwa orang yang selalu mengingat Allah maka ia akan senantiasa diingat oleh Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firmanNya :
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
( البقرة : 152 )
“Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepada kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku”. ( QS. Al Baqarah : 152 )
Maka shalat 5 waktu jangan pernah ditinggalkan karena shalat merupakan sarana yang mengingatkan kita kepada Allah, dan kita bersyukur karena terdapat mejelis-majelis ta’lim dan dzikir yang terus menggemuruhkan nama Allah subhanahu wata’ala untuk melampiaskan rindu kepada Allah dengan menyebut namaNya, seperti majelis kita di malam hari ini. Dimana diantara kita setelah menghadapi kehidupan di siang dan malam, yang mungkin seminggu penuh berada dalam kesibukan, baik sibuk belajar, bekerja, kesibukan di rumah dan lain sebagainya, di malam ini kita melampiaskan kerinduan kepada Allah subhanahu wata’ala dengan berdzikir bersama dan berdoa. Maka jika diantara kita ada yang belum melakukan shalat 5 waktu semoga mulai malam ini ia akan melakukan shalat dan tidak lagi meninggalkannya, secara perlahan-lahan dan bertahap meskipun diawali dengan melakukan shalat 5 waktu sendiri, kemudian mulai ditambah dengan shalat-shalat sunnah rawatib qabliyah dan ba’diyah, shalat dhuha, shalat witir, sebagaimana sayyidina Abu Hurairah berkata bahwa pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah untuk tidak meninggalkan shalat witir selepas shalat Isya’. Maka melakukan shalat witir setelah shalat Isya’ juga memiliki kemuliaan, meskipun yang lebih utama adalah shalat witir dilakukan di sepertiga malam hingga sebelum waktu Subuh. Dan setelah mulai bisa mengamalkan dan tidak lagi meninggalkan shalat 5 waktu, maka usahakanlah untuk melakukan shalat berjamaah berdua atau bertiga dengan teman, keluarga, istri atau suami, ayah ibu, sehingga terbiasa untuk selalu melakukan shalat dengan berjamaah . Semoga segera tiba waktunya untuk kita dijadikan sebagai ahlu qiyam lail, ahlu sujud, ahlu du’aa, dan ahlu munajaat, digolongkan sebagai orang-orang yang shalih dan dilimpahi rahmat dan keberkahan oleh Allah di dunia dan akhirat, dilimpahi kemudahan di dunia dan akhirat. Dan kita selalu mendoakan orang tua kita yang masih hidup supaya dipanjangkan usianya dalam rahmat dan ‘afiyah dari Allah subhanahu wata’ala, dan yang telah wafat semoga dilimpahi kemuliaan dan rahmat di alam kuburnya, amin allahumma amin…
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.
Selanjutnya pengumuman yang ingin saya sampaikan, bahwa mulai hari Sabtu depan akan dibuka Halaqah Tahfizh Al Qur’an di sekretariat Majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bagi yang ingin menghaflakan Al qur’an meskipun belum hafal satu surat pun kita terima, karena kalangan kita banyak pemuda pemudi dan banyak juga kalangan awam, adapun menghafalnya akan dimulai dari Juz 30, kemudian Juz 29, kemudian mulai dari Juz 1, karena Juz 30 dan 29 banyak dan sering dibaca dalam shalat. Dan yang akan mengajar Insyaallah Ustaz Zaki bin Shahab, beliau lulus dari Darul Musthafa dan telah hafal Al qur’an. Mengenai waktu bebas dan tahfizh akan dimulai hari Ahad dan pendaftaran di mulai hari Sabtu. Jika ada diantara kalian yang sibuk dan ingin menghafal Al quran, maka tidak apa-apa untuk ikut tahfiz sampai juz 29 saja, atau Juz 30 saja, atau sampai surat Ad Dhuha saja, dalam hal ini diberi kebebasan untuk memilih namun dengan syarat harus hadir secara rutin dan seksama dan tidak meremehkan agar hasil yang didapatkan maksimal. Dan kita juga mengadakan program belajar membaca Al qur’an dengan syarat seorang Muslim, yang akan mengajar Insyaallah Ustaz Deden Mustofa di Sekretariat Majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap hari dan mengenai waktu bebas dari jam 08.00 pagi sampai Maghrib. Adpun program tahfizh dan membaca Al qur’an ini untuk sementara hanya bagi pria saja, untuk yang wanita akan kita lihat kedepannya. Dan kita berdoa semoga acara kita Isra’Mi’raj di Monas bersama Al Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al Jufri berjalan sukses, amin allahumma amin. Selanjutnya kita bersalam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yatafaddhal masykura.

Ditulis Oleh: Munzir Almusawa   
Tuesday, 12 June 2012

Larangan Buang Air Kecil Dalam Air Yang Tidak Mengalir


قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم : لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لَا يَجْرِي ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ
(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah SAW: Janganlah kalian buang air kecil (atau besar) di air yang diam yang tidak mengalir, lalu ia mandi dari air itu (yang dimaksud selain danau atau kolam besar) (Shahih Bukhari)
Penjelasan makna hadits oleh Al Ustadz Khairullah Ramli
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
فحمدا لرب خصنا بمحمد وأنقذنا من ظلمة الجهل والدياجر والحمدلله الذي شرف الأنام بصاحب المقام الأعلى، وأشهد أن إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن سيدنا ونبينا محمد ورسوله المصطفى ، اللهم صل وسلم وبارك وكرم على عبدك وحبيبك ورسولك سيدنا ومولانا محمد سيد أهل الأرض وسيد أهل السماء وعلى آله وأصحابه وتابعين لهم بإحسان إلى يوم اللقاء
Segala puji bagi Allah Yang Maha melimpahkan rahmatNya kepada kita, Yang memberikan kita izin untuk hadir dalam majelis mulia di malam hari ini untuk kesekian kalinya, semoga segala yang kita amalkan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala selalu menginginkan hambanya dalam kesucian zhahir dan bathin, maka Allah mengajarkan dan memberikan tuntunan-tuntunan kepada ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk tetap berada dalam kesucian dan kemuliaan. Sehingga banyak hal yang kita dapatkan dalam ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang membuat kita selalu dalam keadaan suci, yaitusuci dari dosa kepada Allah subhanahu wata’ala. Dan kehadiaran kita di majelis ini maka kita telah dilimpahi kesucian oleh Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits Shahih bahwa orang-orang yang hadir dalam majelis-majelis dzikir seperti ini, maka dikatakan kepada mereka bahwa ketika mereka bangun dari majelis dzikir itu mereka dalam keadaan diampuni oleh dosa-dosanya, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوْا يَذْكُرُوْنَ اللهَ لَا يُرِيْدُوْنَ بِذَالِكَ إلَّا وَجْهَهُ تَعَالَى إلَّا نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berdzikir kepada Allah dan tidak mengharakan dari perkumpulan itu kecuali ridha Allah, kecuali malaikat akan menyeru dari langit : Berdirilah kalian dalam keadaan terampuni dosa-dosa kalian”
Maka ketika kita datang ke suatu majelis dalam keadaan membawa dosa-dosa kita, dan ketika kita pulang dari majelis dosa-dosa kita telah dibersihkan oleh Allah subhanahu wata’ala, hal ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wata’ala selalu menginginkan kesucian untuk kita, baik secara zhahir atau bathin. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menuntun kita kepada hal tersebut. Dalam hadits riwayat Al Imam Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
لَايَبُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِيْ لَايَجْرِيْ ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيْهِ
“ Janganlah salah seorang dari kalian membuang air kencing di air yang diam tidak mengalir kemudian mandi di dalam air itu”
Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan suatu larangan kepada ummatnya, yaitu untuk tidak membuang air kecil (apalagi membuang air besar) dalam air yang tergenang dan tidak mengalir, kemudian mandi dari air tersebut. Maka para Ulama’ menjelaskan tentang hukum membuang air kecil dalam hadits ini atau hadits-hadits riwayat lain yang serupa, bahwa jika airnya sedikit dan miliknya sendiri, bukan milik orang lain maka hukumnya adalah makruh, yang secara bahasa berarti dibenci atau tidak disukai, adapun dalam istilah syariat, makruh adalah sesuatu yang jika ditinggalkan (karena perintah Allah subhanahu wata’ala) maka akan mendapatkan pahala dari Allah, dan jika dikerjakan tidak mendapatkan dosa. Maka ketika seseorang tidak ingin membuang air kecil atau air besar di air yang tergenang, karena dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana hal itu adalah perintah dari Allah subhanahu wata’ala maka ia akan mendapatkan pahala dari Allah subhanahu wata’ala, karena hal tersebut hukumnya makruh. Adapun jika air tersebut bukan milik seseorang atau tidak ada yang memilikinya (Al Milk Al Mubaah) maka jumhur Ulama’ dalam madzhab Syafi’i juga mengatakan bahwa kencing di air tersebut hukumnya makruh , karena Al Milk Al Mubaah (tidak ada yang memilikinya). Namun jika air tersebut dimiliki oleh seseorang, kemudian ada orang lain yang membuang hajat di air tersebut tanpa izin dari pemiliknya atau belum mengetahui atau yakin bahwa pemiliknya ridha, maka dalam hal ini hukumnya adalah haram karena air itu adalah milik orang lain. Misalanya kita memiliki air ada kolam kecil atau dalam ember yang tidak mencapai 2 qullah ( +- 217 L ) maka haram hukumnya bagi orang lain untuk membuang hajat dalam air tanpa meminta izin atau meyakini bahwa yang memiliki air tersebut ridha. Begitu juga jika air itu adalah milik wakaf, jika ada seseorang yang mewakafkan air, baik air itu sedikit atau banyak dan untuk digunakan berwudhu’, maka hukumnya haram membuang hajat di dalam air tersebut karena air itu adalah milik wakaf dan diwakafkan hanya untuk berwudhu. Adapun jika air yang tidak mengalir itu banyak sekali seperti danau, atau kolam renang yang besar baik itu milik orang lain atau milik sendiri, maka para ulama’ mengatakan bahwa hukum membuang air kecil dalam air tersebut mubah (diperbolehkan). Namun salah seorang ulama’ Syafi’i yaitu Al Imam An Nawawi Ad Dimasyqi, beliau adalah ulama’ besar yang bermadzhab Syafi’I yang kemudian beliau mengambil intisari madzhab Syafii dan dikaranglah sebuah kitab Fiqih yang berjudul Minhaaj, beliau mengatakan dalam salah satu kitab karangannya yang berjudul Majmuu’ Syarh Al Muhadzzab, bahwa membuang hajat di air yang tergenang atau pun di air yang mengalir maka hukumnya adalah haram secara mutlaq, maka oleh sebab itu kita perlu berhati-hati karena pendapat Al Imam An Nawawi adalah pendapat yang kuat dalam madzhab Al Imam As Syafii.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, setelah menyebutkan akan hukum membuang hajat di dalam air yang tergenang / tidak mengalir, kemudian ia mandi di air itu. Di dalam hadits Riwayat Al Imam Muslim dan Abu Daud, disebutkan :
ثُمَّ يَغْتَسِلُ مِنْهُ
“ Kemudian mandi dari air tersebut (dengan cara mengambilnya)”
Hadits yang pertama yaitu berendam di dalam air itu, adapaun hadits yang lainnya riwayat Imam Muslim dan Abu Daud yaitu mengambil air dari air itu kemudian mandi dengannya. Maka para Ulama’ menyebutkan tentang hukum mandi dari air yang tergenang baik dengan cara menyelam atau berendam di air tersebut atau dengan mengambil air dengan gayung dan jika airnya sedikit maka hukumnya adalah makruh, tetapi jika airnya banyak meskipun tidak mengalir seperti berendam di kolam renang yang airnya banyak maka hukumnya mubah (diperbolehkan). Namun dalam hal ini para Ulama’ tidak akan menyia-nyiakan waktu di setiap detiknya kecuali untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dan selalu menjadikan perbuatannya mendapatkan pahala dari Allah subhanahu wata’ala, meskipun dikatakan bahwa mandi di kolam renang yang airnya banyak itu hal itu adalah perbuatan mubah (Jika dikerjakan tidak mendapatkan pahala, dan jika ditinggalakan tidak mendapatkan dosa). Maka ketika mereka mandi di kolam renang tentunya mereka para ulama’ akan memasang niat untuk menjalankan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :
عَلِّمُوْا أَوْلَادَكُمْ السِّبَاحَةَ وَالرِّمَايَةَ وَرُكُوْبَ الْخَيْلِ
“ Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah dan menunggang kuda”
Maka ketika kita berenang dan berniat karena menjalankan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka akan mendapatkan pahala. Dan kita telah mendengar dari Al Allamah Al Habib Abdullah Al Haddar, beliau adalah guru dari guru mulia kita Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim AL Hafizh, di wilayah Baidha’ Hadramaut, dimana suatu waktu ketika beliau berenang di danau bersama murid-muridnya, kemudian beliau bertanya kepada muridnya : “Apa yang kalian niatkan ketika kalian menyelam?”, mereka justru bertanya : “Apa yang seharusnya kita niatkan wahai guru?”, beliau berkata : “berniatlah ketika kalian menyelam untuk mengqadha’ (mengganti) setiap mandi sunnah yang terlewatkan”, mungkin ketika akan shalat Jum’at tidak melakukan mandi sunnah, atau ketika akan shalat Idul Fitri tidak mandi sunnah karena terburu-buru atau yang lainnya. Begitulah para Ulama’ kita memberikan tuntunan untuk menjadikan setiap perbuatan mubah mendapatkan pahala dari Allah subhanahu wata’ala. Mudah-mudahan Allah subhanahu wata’ala memberikan kita keberkahan di dunia dan di akhirat, memberikan kita ilmu yang bermanfaat, dan semoga guru kita Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa selalu diberi kesehatan dan dipanjangakan usianya dalam keluhuran amin Allahumma amin…
وبالله التوفيق والهداية والعفو منكم والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Tausiah Al Habib Munzir Al Musawa
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata'ala Yang Maha Luhur, Yang Maha menjadikan waktu-waktu tertentu menjadi lebih luas untuk hamba-hambaNya untuk mendekat kehadiratNya, dimana Allah Yang Maha Dekat telah menyampaikan kepada sang nabi melalui firmanNya untuk kemudian disampaikan kepada segenap ummatnya, dimana jika seorang hamba bertanya tentang Allah subhanahu wata’ala kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Allah subhanahu wata’ala berfirman :
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
( البقرة : 186 )
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.( QS. Al Baqarah : 186 )
Kalimat ini sungguh akan merobek jiwa-jiwa yang mencintai Allah subhanahu wata’ala, jawaban dari Sang Maha Raja Langit dan bumi, Sang Maha Pencipta alam semesta dari tiada, Sang Maha menghamparkan kerajaan langit dan bumi dari tiada, serta menjadi Pengatur tunggal atas seluruh keseimbangan alam ini, yang mana telah dikatakan oleh para Ilmuwan bahwa semua planet yang jumlahnya triliyunan bahkan lebih kesemuanya berputar pada porosnya, dan jika dalam satu detik saja ada satu saja planet diantara triliyunan planet tidak berputar pada porosnya, maka planet itu akan beradu dan saling hantam antara planet-planet yang lainnya, sehingga mengakibatkan kehancuran alam semesta ini. Begitu pula dengan manusia, jika satu butir sel dalam tubuhnya tidak lagi berfungsi melakukan tugas yang semestinya, maka keadaan tubuh tidak akan sempurna dan menjadi kacau atau hancur, karena tubuh berasal dari rangkaian sel yang berjumlah sangat banyak yang saling mengikat satu sama lain sehingga menjadi tubuh yang sempurna. Demikian pula keadaan ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak akan bisa terpisah dengan nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam baik di dunia atau pun di akhirat, dimana pun dan kapanpun kalimat أشهد أن لا إله إلا الله محمد رسول الله akan mengikat ummat dengan nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Maka di malam-malam luhur di bulan Rajab ini, yang mana semakin mendekat pada puncak undangan tunggal Ilahi kepada hamba yang paling dicintai Allah subhanahu wata’ala (malam Isra’ Mi’raj), yang mana dengan mencintainya maka seseorang akan dicintai Allah subhanahu wata’ala, yang dengan mengikutinya maka seseorang akan dicintai Allah, dimana cinta seorang hamba untukNya ditolak kecuali dengan mengikuti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana firmanNya :
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
(آل عمران :31 )
“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( QS. Ali Imran : 31)
Jika seseorang mengatakan bahwa ia mencintai Allah, namun tidak mengikuti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka Allah tidak akan mencintainya. Sungguh cinta Allah ada pada sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga dengan mengikuti gerak gerik, ucapan-ucapan dan tuntunan sang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka seseorang akan menjadi orang yang dicintai Allah subhanahu wata’ala. Dan di majelis seperti ini kita berada dalam tempat yang menjadikan kita memanut sang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena dalam majelis seperti ini kita selalu mendengarkan tuntunan-tuntunan sang nabi serta berusaha dengan niat yang mulia untuk merubah diri menjadi lebih indah dan mulia dari hari-hari sebelumnya menuju kedekatan kepada Yang Maha Indah, Allah subhanahu wata’ala.
Oleh sebab itu Allah subhanahu wata’ala menyampaikan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam jika seseorang bertanya kepada beliau tentang Allah subhanahu wata’ala bahwa DIA dekat dengan hamba-hambanNya, sebagaimana firmanNya QS. Al Baqarah : 186. Maka mendekatlah kepada Allah agar kita mengetahui bahwa Allah sangat dekat dengan kita, dan ketika kita menyeruNya maka Allah subhanahu wata’ala menjawab seruan kita dan jawaban itu bukanlah berupa suara, namun berupa anugerah-anugerah Allah yang tidak diberikan oleh satu makhluk kepada yang lainnya, yang mana akan membuat seorang hamba terharu dan mengeluarkan air mata cinta, karena begitu besarnya anugerah yang diberikan Allah kepada hambaNya yang ingin dekat kepadaNya, Allah subhanahu wata’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ
( الإنشقاق : 6 )
“Wahai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya”. ( QS. Al Insyiqaaq: 6 )
Ayat ini merupakan bisyarah (kabar gembira) bagi orang-orang yang selalu berusaha dan rindu untuk berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala, maka telah Allah sampaikan bahwa ia pasti akan berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala. Dan ayat ini juga sebagai teguran untuk mereka yang masih terus meremehkan dan menghinakan cinta Allah yang terus ditawarkan kepada mereka. Allah subhanahu wata’ala menawarkan cintaNya dalam setiap waktu untuk diterima oleh hamba-hambaNya, untuk berbuat hal-hal yang diridhaiNya sehingga kita mendapatkan cintaNya, dan cinta itu akan didapatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang berupa ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.
Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam peristiwa Isra’ Mi’raj didatangakan kepada beliau dua wadah, yang satu berisi susu dan wadah yang satunya berisi arak, akan tetapi arak yang berada di surga bukanlah arak yang memabukkan dan meruka akal manusia sebagaimana arak yang ada di dunia, akan tetapi berupa minuman yang sangat lezat berasal dari sari buah-buahan segar. Dan setelah diperintahkan kepada nabi Muhammad untuk meminum salah satu dari dua wadah tersebut, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil wadah yang berisi susu dan meminumnya, kemudian malaikat Jibril As berkata :
هُدِيْتَ لِلفِطْرَةَ أَمَّا أَنَّكَ لَوْ أَخَذْتَ الْخَمْرَ غَوَتْ أُمَّتُكَ
“ Sungguh engkau telah ditunjukkan(memilih) kepada kesucian , jika engkau mengambil arak niscaya umatmu akan tersesat”.
Tidakkah kita perhatikan bahwa Allah sangat mengikat amal perbuatan hamba-hambaNya dengan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, jika nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memilih arak maka ummatnya akan tersesat, padahal di surga meminum arak diperbolehkan meskipun di dunia diharamkan. Setelah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memilih susu maka dikatakan kepadanya bahwa kesucian telah dipilihnya, sehingga dalam hal ini ummat beliau juga akan terbawa dalam perbuatan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Allah Yang Maha Lembut telah mengikat perbuatan sang nabi dengan ummat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga dikarenakan ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memilih susu maka banyak dari ummat beliau di dunia yang selamat dari minuman keras, walaupun masih banyak diantara ummat beliau yang terjebak ke dalam hal tersebut, namun jika ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memilih arak maka di dunia semua ummatnya akan tersesat karena terjebak ke dalam minuman keras. Kita perhatikan keindahan dan kasih sayang Allah subhanahu wata’ala yang menjadikan perbuatan sang nabi sebagai penyelamat ummatnya di dunia, sungguh beruntungnya ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga mereka yang belum bisa meninggalkan minuman keras segera diberi hidayah oleh Allah subhanahu wata’ala, amin allahumma amin.
Berkaitan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj, Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat An Najm :
وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى، مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى، وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى، إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى، عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى، ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى، وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى، ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى، فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى، فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى، مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى، أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى
( النجم : 1-12 )
An Najm adalah bintang yang memiliki cahaya, dan berbeda dengan kaukab yang dikatakan bahwa kaukab adalah bintang yang mengambil cahaya dari bintang yang lainnya, seperti bulan yang termasuk ke dalam kelompok Al Kaukab, adapun matahari termasuk kedalam kelompok An Najm karena mempunyai cahaya sendiri. Adapun kalimat النجم bintang yang berpijar itu, yang dimaksud adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dijelaskan oleh guru mulia kita Al Musnid Al Arif billah Al Habib Umar bin Muhammad bin Hafizh, bahwa makna kalimat والنجم إذا هوى yaitu keadaan sang nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di malam Isra’ dan Mi’raj yang bergetar dengan cahaya cinta karena berhadapan dengan kekasihnya, Allah subhanahu wata’ala. Kemudian disebutkan dalam ayat ini bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah berbicara karena hawa nafsunya, akan tetapi berbicara dengan wahyu yang disampaikan Allah kepadanya melalui malaikat Jibril As. Alangkah indahnya lidah yang berbicara karena Allah subhanahu wata’ala, itulah lidah mulia sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka dalam peristiwa Isra’ Mi’raj ini setelah sampai malaikat Jibril dan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sampai di batas muntahaa al khalaaiq, malaikat Jibril pun tidak bisa menemani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tinggallah makhluk termulia sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang berhadapan dengan Allah subhanahu wata’ala. Di dalam kitab As Syifaa oleh Al Imam Qadhi ‘Iyadh dijelaskan bahwa saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar gemuruh tasbih para malaikat, namun ketika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sampai di batas Muntaha Al Khalaa-iq, yaitu batas yang tidak bisa ditembus oleh semua makhluk kecuali sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang kemudian berhadapan dengan Allah subhanahu wata’ala , ketika itu tiada lagi suara yang terdengar atau pun pemandangan yang terlihat. Kemudian nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersujud kepada Allah subhanahu wata’ala dimana kerajaan langit dan bumi berada dalam genggaman kekuasaannya, setiap nafas hamba adalah milikNya. Dan ketika itu sebagaimana disebutkan dalam kitab As Syifaa oleh Al Imam Qadhi ‘iyadh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar ucapan : “mendekatlah wahai Muhammad, dan tenangkanlah rasa takutmu”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendekat. Kemudian diwahyukan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ibadah shalat, sebagai undangan tunggal untuk nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para ummatnya. Disebutkan dalam kitab As Syifaa bahwa ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersujud kemudian duduk dan mengucapkan :
اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لله
“ Segala penghormatan, keberkahan, shalawat dan kalimat yang baik semua hanya milik Allah”
Kemudian Allah subhanahu wata’ala menjawab :
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِي وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
“ Salam sejahtera serta rahmat dan keberkahan Allah untukmu wahai nabi “
Lalu nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :
اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ
“Salam sejahtera untuk kami dan para hamba yang shalih”
Alangkah indah dan mesranya hubungan Allah dengan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mengapa saya katakan kalimat mesra, karena hubungan yang sangat dekat dan mesra seharusnya hanyalah ada diantara makhluk dan penciptanya, Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Ada sebelum kita ada, Maha Ada sebelum kita wafat dan Maha Ada hingga alam ini tiada. Kemudian Allah subhanahu wata’ala berfirman:
مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى
“ Sanubari tidak berdusta akan apa yang dilihatnya”
Dan Allah tidak berkata :
مَا كَذَبَ مُحَمَّدٌ مَا رَآى
“ Muhammad tidak berdusta akan apa yang dilihatnya”
Gelar yang sangat agung, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam digelari Al Fuaad (sanubari), sebagai kekasih Allah subhanahu wata’ala , maka Sang sanubari tidak berdusta akan apa yang dilihatnya. Sang sanubari itu adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kekasih Alla subhanahu wata’ala. Maka kemana akan mencari keselamatan dari neraka dan mendapatkan kemuliaan surga jika bukan dengan mengikuti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kemana langkah kita untuk mencari cinta Allah jika bukan dengan menapaki langkah-langkah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa malam lagi kita akan sampai di malam yang mulia (Isra’ Mi’raj) dan layak untuk diperingati sebesar-besarnya, karena setiap kita mendapatkan bagian dari kemuliaan Isra’ Mi’raj, yaitu percakapan antara Allah subhanahu wata’ala dengan sang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang selalu kita dalam shalat ketika duduk tasyahhud :
اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لله، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِي وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ،اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ.
“Segala penghormatan, keberkahan, shalawat dan kalimat yang baik semua hanya milik Allah, Salam sejahtera serta rahmat dan keberkahan Allah untukmu wahai nabi, Salam sejahtera untuk kami dan para hamba yang shalih”
Kalimat tersebut adalah percakapan antara Allah dengan sang nabi di malam terluhur, di malam pertemuan Allah dengan makhlukNya yang tercinta, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian kalimat luhur itu diwarisakan kepada kita ummat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.
Semoga kita bisa mengemban cahaya cinta dan cahaya kemesraan cinta Allah subhanahu wata’ala kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, semoga Allah menaungi kita dengan cahaya keberkahan malam Isra’ Mi’raj. Ya Allah, kami tidak mampu mengkiaskan keindahan malam itu , namun Engkau Maha Tau akan rahasia keluhurannya, maka tumpah ruahkanlah kepada kami, pastikan seluruh wajah kami bercahaya dengan cahaya keluhuran Isra’ Mi’raj, dengan keberkahan Isra’ dan Mi’raj. Ya Allah pastikanlah tidak satu pun diantara kami kecuali akan berjumpa dengan sang nabi di telaga Al Kautsar, di telaga Haudh dan di surga Firdaus, maka jauhkan dan lepaskan kami dari siksa api neraka, lepas dari siksa kubur, lepas dari himpitan pedihnya sakaratul maut, lepas dari sulitnya kehidupan dunia, lepas dari semua permasalahan yang membuat kami terjebak ke dalam dosa. Wahai Allah, limpahilah kepada kami kebahagiaan dan kemudahan di dunia dan akhirat, amin allahumma amin.
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ 
تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ
Ditulis Oleh: Munzir Almusawa   
Wednesday, 20 June 2012

Memperindah Wudhu



سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : لَا يَتَوَضَّأُ رَجُلٌ يُحْسِنُ وُضُوءَهُ وَيُصَلِّي الصَّلَاةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلَاةِ حَتَّى يُصَلِّيَهَا
(صحيح البخاري)
"Kudengar Rasulullah SAW bersabda : "Tiadalah seorang berwudhu dengan memperindah ( wudhu dengan sebaik-baiknya semampunya ), lalu shalat dua rakaat (sunnatul wudhu), kecuali Allah telah mengampuninya antara wudhunya dan shalatnya hingga ia melakukan shalatnya" (Shahih Bukhari)
Syarah Hadits oleh KH. Khairullah Ramli
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
فحمدا لرب خصنا بمحمد وأنقذنا من ظلمة الجهل والدياجر والحمدلله الذي شرف الأنام بصاحب المقام الأعلى، وأشهد أن إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن سيدنا ونبينا محمد ورسوله المصطفى ، اللهم صل وسلم وبارك وكرم على عبدك وحبيبك ورسولك سيدنا ومولانا محمد سيد أهل الأرض وسيد أهل السماء وعلى آله وأصحابه وتابعين لهم بإحسان إلى يوم اللقاء
Alhamdulillah atas keberkahan dari Allah subhanahu wata’ala yang telah mengumpulkan kita di majelis yang penuh ramhat Allah, majelis yang penuh dengan mahabbah (cinta) Allah subhanahu wata’ala, dan insyaallah mahabbah ini diberikan oleh Allah kepada kita di dunia dan di akhirat, amin ya rabbal ‘alamin.
Disebutkan dalam hadits yang kita baca tadi, bahwa sayyidina Utsman bin Affan mendengar nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tiadalah seseorang berwudhu’ dan menyempurnakan wudhu’nya kemudian ia melakukan shalat (sunnah), melainkan Allah subhanahu wata’ala mengampuni dosanya hingga ia melakukan shalat (fardhu)”. Hal ini sebagai bukti bahwa Allah subhanahu wata’ala selalu menyayangi hamba-hambaNya yang beriman dan beramal shalih, sehingga banyak pintu ampunan Allah telah dibuka agar kita mendapatkan ampunan dari Allah subhanahu wata’ala. Dan tidak lama lagi akan datang malam Nisfu Sya’ban dan kita semua akan menghadirinya insyaallah, sehingga kita mendapatkan ampunan dari Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana yang telah dikabarkan sayyidina Muhammad oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun ampunan Allah yang ditawarkan kepada hambaNya yang beriman dalam hadits ini adalah dengan melakukan wudhu’ secara benar dan sempurna kemudian mengerjakan shalat sunnah wudhu’, maka dengan melakukan hal ini seseorang akan mendapatkan janji Allah subhanahu wata’ala berupa ampunan atas dosa-dosa. Sedangkan untuk mendapatkan kesempurnaan wudhu’ yang pertama adalah harus memenuhi rukun dan syarat wudhu’, yang diantaranya air yang digunakan berwudhu’ haruslah air yang suci dan mensucikan, maka tidak boleh menggunakan air musta’mal (telah digunakan untuk bersuci) apalagi air yang najis. Begitu pula rukun-rukun wudhu’ harus terpenuhi yang diantaranya yaitu berniat untuk menghilangkan hadats kecil dibarengi dengan membasuh muka, kemudian membasuh kedua tangan hingga kedua siku, lalu membasuh sebagian kepala atau rambut kepala, kemudian membasuh kaki hingga mata kaki, dan yang terakhir adalah tertib yaitu membasuh anggota wudhu’ secara berurutan mulai dari membasuh wajah disertai dengan niat hingga membasuh kedua kaki, hal tersebut adalah rukun atau yang wajib dalam berwudhu’. Dan jika kita melakukan hal yang sunnah selain yang wajib dalam berwudhu’ maka wudhu’ kita akan semakin sempurna, banyak hal-hal sunnah dalam berwudhu’ yang dapat kita lakukan, diantaranya adalah diawali dengan membasuh kedua telapak tangan, berkumur-kumur, menghirup air ke dalam hidung kemudian mengeluarkannya, mendahulukan anggota yang kanan daripada yang kiri, membasuh setiap anggota sebanyak tiga kali, membasuh kedua telinga, dan lainnya. Begitu pula dalam berwudhu’ sebagaimana disebutkan oleh Al Imam Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah terdapat doa-doa yang dibaca ketika membasuh setiap anggota wudhu’ baik yang wajib atau pun yang sunnah, yang mana jika kita membaca doa-doa tersebut tentunya wudhu’ kita akan semakin sempurna. Diantara hal-hal tersebut adalah ketika kita akan berwudhu’ maka disunnahkan untuk membasuh kedua telapak tangan dan membaca doa :
اَلْحَمْدُلله الَّذِيْ جَعَلَ الْمَاءَ طَهُوْرًا وَالْإسْلَامَ نُوْرًا، اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ اْليُمْنَ وَاْلبَرَكَةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشُّؤْمِ وَالْهَلَكَةِ
“ Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air suci dan mensucikan, dan menjadikan Islam sebagai cahaya , Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu keberuntunga dan keberkahan, serta aku berlindung kepadaMu dari keputusasaan dan kehancuran”
Dan setelah membasuh kedua telapak tangan maka disunnahkan untuk bersiwak, namun dalam hal bersiwak para Ulama’ berbeda pendapat, diantara mereka mengatakan bahwa sunnah bersiwak ketika berwudhu’ itu dilakukan setelah membasuh kedua telapak tangan dan sebelum berkumur, dan ada yang mengatakan bahwa bersiwak dilakukan sebelum membasuh kedua telapak tangan. Jika bersiwak dilakukan sebelum membasuh kedua telapak tangan maka diharuskan untuk niat bersiwak untuk wudhu’, adapun jika bersiwak dilakukan setelah membasuh kedua telapak tangan maka tidak perlu niat bersiwak untuk wudhu’ karena telah masuk dalam niat sunnah wudhu’ yang diniatkan ketika mencuci kedua telapak tangan, jadi hanya dalam mencuci telapak tangan telah banyak sunnah yang dapat kita lakukan. Begitu juga hal yang sunnah yang dapat dilakukan dalam berwudhu’ adalah berkumur-kumur kemudian membaca doa :
اَللّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى تِلَاوَةِ كِتَابِكَ وَكَثْرَةِ الذِّكْرِ لَكَ
“ Ya Allah bantulah aku untuk bisa membaca kitabMu (Alqur’an) dan bisa banyak mengingatMu”.
Begitu seterusnya hingga membasuh kedua kaki terdapat doa-doa tertentu sebagaiamana yang disebutkan oleh Al Imam Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah. Maka doa-doa seperti di atas jika dibaca ketika melakukan wudhu’ maka wudhu’ pun menjadi semakin sempurna. Al Imam Ghazali mengatakan bahwa jika sesorang membaca doa-doa tersebut maka semua dosa sekujur tubuhnya akan diampuni oleh Allah subhanahu wata’ala, namun jika tidak membaca doa-doa tersebut maka dosa-dosa yang diampuni hanya pada anggota yang terkena air wudhu’ saja. Para Ulama’ seperti Al Imam Ar Ramli mengatakan bahwa doa-doa ketika membasuh anggota wudhu’ seperti disebut di atas merupakan hal yang sunnah. Sedangkan Al Imam An Nawawi mengatakan bahwa hadits yang membahas tentang doa-doa yang dibaca ketika membasuh anggota wudhu’ hal tersebut tidak ada dasarnya, dan para ulama’ mengatakan bahwa maksud dari ucapan Al Imam An Nawawi bahwa hal tersebut tidak ada dasarnya adalah dalam hadits Shahih, namun ada dalam selain hadits Shahih. Oleh sebab itu sebagian para Ulama’ mensunnahkan untuk membaca doa-doa tersebut, dan Al Imam Ghazali pun menguatkannya dalam kitab Bidayah Al Hidayah. Demikianlah diantara hal-hal yang dapat dilakukan untuk memperbagus atau menyempurnakan wudhu’. Dan setelah hal-hal tersebut dilakukan, kemudian melaksanakan shalat sunnah maka sebagaimana disebutkan dalam hadits tadi bahwa janji Allah berupa ampunan dari Allah subhanahu wata’ala akan didapatkan. Adapun memperbagus atau menyempurnakan wudhu’ merupakan sifat para shalihin, dimana ketika Al Imam As Syafi’i wafat dan sayyidah Nafisah ditanya tentang beliau, maka sayyidah Nafisah menjawab :
كَانَ يُحْسِنُ اْلوُضُوْءَ
“ Dulu beliau ( Al Imam As Syafi’i) selalu memperbagus wudhu’”
Kita ketahui bahwa Al Imam As Syafi’i mempunyai banyak amal ibadah, diantaranya ketika bulan Ramadhan beliau menghatamkan Al qur’an dua kali dalam sehari, dan selain bulan Ramadhan beliau menghatamkan Al qur’an sekali dalam sehari, namun hal yang paling dipuji oleh sayyidah Nafisah adalah wudhu’ beliau, dimana beliau ketika berwudhu’ selalu memperbagus dan menyempurnakannya. Maka hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang shalih senantiasa memperhatikan untuk memperbagus wudhu’. Begitu pula ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perjalanan Isra’ Mi’raj, beliau mendengar suara terompah sayyidina Bilal di dalam surga, dan setelah kembali ke bumi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada sayyidina Bilal : “Wahai Bilal, apa yang membuatmu mendahuluiku memasuki surga?”, maka sayyidina Bilal berkata : “wahai Rasulullah, aku tidak memiliki banyak amal, namun yang aku lakukan setiap aku selesai berwudhu’ maka aku mengerjakan shalat 2 rakaat”. Maka shalat sunnah wudhu’ 2 rakaat yang selalu dilakukan oleh sayyidina Bilal selesai berwudhu’ menjadikan sandal beliau mendahuluinya masuk ke surga. Maka pintu-pintu seperti terbuka luas untuk ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di sepanjang waktu dan zaman, dan kita pun akan mendapatkan kemuliaan dari Allah subhanahu wata’ala ketika kita senantiasa mengamalkan amalan-amalan sunnah seperti ini, mudah-mudahan Allah subhanahu wata’ala mencatat kita sebagai orang -orang shalih, diberkahi setiap amal perbuatan kita dan dilimpahi taufik dan hidayah untuk senantiasa menjalankan sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga dikumpulkan bersama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam di hari kiamat, amin ya rabbal ‘alamin.
وبالله التويفق والهداية والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Tausiah Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala atas perkumpulan yang penuh dengan cahaya Allah, perkumpulan yang terang benderang dengan cahaya ridha Allah, perkumpulan yang meruntuhkan dosa-dosa dengan cahaya kewibawaan Allah, perkumpulan yang menuntun hamba-hamba kepada cahaya ridaha dan kasih sayang Allah, di segala penjuru barat dan timur tidak akan kita dapatkan perkumpulan yang membawa kepada cinta Allah dan RasulNya kecuali dalam majelis-mejelis ta’alim, majelis dzikir, majelis shalawat, shalat berjama’ah, dan di malam hari ini kita berada dalam salah satu perkumpulan tersebut, dalam majelis yang terang benderang dengan cahaya Allah. Semoga Allah menerangi seluruh hati kita dengan cahaya keluhuranNya, cahaya kewibawaanNya, cahaya keagunganNya, cahaya pengampunanNya, cahaya kasih sayangNya, cahaya ridha dan cintaNya. Jika cahaya cinta Allah tidak turun pada majelis yang dihadiri puluhan ribu hamba-hamba yang mendengar tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan memanggil namaNya, maka dimana cahaya cinta Allah itu akan turun di bumi ini, tiada tempat yang lebih layak untuk dituruni cahaya Allah dari tempat yang paling banyak disebut nama Allah didalamnya. Maka pujian tiada terhingga atas Allah subhanahu wata’ala Yang Telah mengasuh dan menggiring kita di malam hari ini untuk hadir di dalam perkumpulan yang dipenuhi cahaya Allah subhanahu wata’ala, yang barangkali pada majelis-majelis mendatang kita telah berada dalam pendaman bumi sehingga tidak bisa lagi menghadirinya, atau mungkin karena kesibukan atau halangan yang lainnya, maka layaklah di malam hari ini untuk kita bersyukur dengan syukur yang teragung untuk Allah subhanahu wata’ala, yang mana dengan bersyukur atas cahaya Allah yang diturunkan untuk kita, Allah subhanahu wata’ala berfirman :
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
(إبراهيم : 7 )
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". ( QS. Ibrahim : 7)
Maka jika kita bersyukur akan nikmat dengan dihadirkannya kita dalam perkumpulan yang dipenuhi cahaya Allah, niscaya Allah akan menambah lagi cahaya keluhuran itu, cahaya kebahagiaan di dunia dan akhirat. Betapa Maha Kaya nya Allah sehingga tidak akan terhingga cahaya keluhuran yang dibagi-bagikan untuk hamba-hambaNya yang menjadi tamuNya. Dan keberadaan kita di tempat ini adalah sebagai tamu Allah yang sedang dimulikan dengan kemuliaan jamuan-jamuan rahmat Ilahi. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Alqur’an untuk menggiring kita kepada cintaNya dan kepada cinta nabiNya dan pada perjuangan dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah subhanahu wata’ala :
قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
( التوبة : 24 )
“Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” ( QS. At Taubah : 24 )
Jika keluarga dari orang tua, istri dan anak-anak, serta harta kekayaan lebih dicintai oleh seseorang daripada Allah dan RasulNya, maka tunggulah keputusan (kehancuran) dari Allah baik dalam kehidupannya di dunia atau pun kelak di alam barzakh atau di hari kiamat yang akan turun kepadanya, karena ia lebih mencintai yang lain daripada cinta kepada Allah dan RasulNya serta dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Secara zhahir ayat ini sangat keras dan menakutkan, namun sebaliknya ayat ini justru menunjukkan cahaya cinta Allah, akan betapa besarnya cinta Allah kepada hamba-hambaNya, karena Dia menginginkan hamba-hambaNya lebih mencintaiNya dan rasulNya, serta dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam daripada semua keluarga, harta bendanya, pekerjaannya dan lainnya, hal itulah yang diinginkan oleh Allah subhanahu wata’ala melalui ayat ini. Maka jika hal itu masih diabaikan dan masih memilih untuk lebih mencintai selain Allah dan RasulNya maka tunggulah waktu dimana Allah akan datangkan keputusan untuknya berupa kehancuran, baik dengan musibah-musibah di dunia, di alam kubur atau kelak di hari kiamat. Ya Allah, kami ingin mencintaiMu dan nabi-Mu lebih dari segala-galanya, dan mencintai Nabi-Mu adalah perwujudan dari mencintai-Mu, maka jadikanlah kami berada diantara kelompok mereka. Siapa dan dimanakah mereka itu?, diantara mereka adalah orang-orang yang hadir dalam perkumpulan-perkumpulan mulia seperti sekarang ini, karena saat ini kalian hadir ke tempat ini dengan meninggalkan keluraga dan harta di rumah, dengan keinginan untuk mendekat kepada Allah dan Rasul-Nya serta mencari ketenangan bathin. Allah subhanahu wata’ala menginginkan hamba-hambaNya seperti itu bahkan lebih lagi, semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan kepada kita sifat cinta yang besar, hingga kita mencapai derajat terluhur dalam mencintaiNya, amin allahumma amin. Namun terkadang ada sebagian yang merasa dan berkata :“Aku belum pernah mencintai Allah, belum pernah mengalirkan air mata rindu kepada Allah”,jika hal ini yang terjadi maka apa faidah hidupnya sejak lahir hingga malam hari ini. Ingatlah ketika kita sakit terkadang kita menangis, ketika salah seorang saudara kita wafat kita menangis, musibah menimpa kita maka air mata mengalir, namun dimanakah air mata yang mengalir karena Allah subhanahu wata’ala, padahal telah kita ketahui dalam sebuah hadits bahwa diantara golongan yang mendapat naungan Allah di hari kiamat adalah orang yang menangis dalam kesendiriannya karena mengingat Allah; sebagian ahli tafsir mengatakan, dalam keramaian ketika berdzikir bersama. Maka perkumpulan seperti ini yang kita perjuangkan demi Allah, dimana setiap malam seseorang berusaha untuk selalu menghadirinya, serta menjajakan kepada orang lain agar nama Allah disebut, agar Allah dicintai dan dimuliakan, namun kemampuan seorang hamba ternyata dibatasi oleh Allah, sehingga banyak diantara majelis-majelis yang tidak bisa dihadiri, yang mungkin tidak lain penyebabnya adalah banyaknya dosa sehingga belum pantas untuk menyebarkan nama Allah hingga ke segala penjuru barat dan timur. Kita renungkan sejenak, apakah cinta Allah itu?, dan renungkanlah siapa yang memberi kita tubuh ini, dari tangan, kaki, pendengaran, penglihatan, ucapan, dan lainnya, darimanakah semua kenikmatan tersebut datang dan dari kebaikan siapa? rizki yang kita dapatkan dari siapa?, mungkin diantara kita ada yang berkata : “rizeki yang saya dapatkan karena saya bekerja”, bekerja dimana?, mungkin ada yang menjawab : “bekerja di kantor, di ladang, di perdagangan dan lainnya”, siapa yang menciptakannya?, kesemuanya tidak lain hanyalah dari kebaikan dan cinta Allah subhanahu wata’ala terhadap hamba-hambaNya. Maka dalam ayat diatas Allah meminta cinta hamba-hambaNya untukNya dan untuk nabiNya sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Semoga Allah subhanahu wata’ala tidak menjadikan kita dalam kelompok orang-orang yang fasiq. Ya Allah salahkah jika kami menangis memohon cintaMu, meskipun kami masih mencintai banyak hal selainMu dan RasulMu, bahkan diantara kami ada yang hingga tidak pernah mencintaiMu serta melupakanMu, bahkan tidak pernah pula merindukanMu, hati seperti apa yang ada pada diri ini Ya Allah maka perbaikilah dan tiada yang mampu memperbaikinya selainMu…
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ
Adapun hal lain yang perlu saya sampaikan bahwa Majelis Fiqh insyaallah dimulai hari Sabtu yang akan datang. Dan bagi yang ingin belajar membaca Al qur’an bisa belajar kepada Ustaz Deden Mustafa , serta menghafal Al qur’an bersama ustaz Zaki bin Syahab di markas Majelis Rasulullah setiap hari kecuali hari Sabtu dari pagi sampai jam 17.00 Wib. Selanjutnya tempat acara malam Nisfu Sya’ban kita ganti di Monas, karena di Monas tempat lebih luas dan suara sound tidak menggaung seperti di Istiqlal, dan Insyaallah acara malam Nisfu Sya’ban setiap tahunnya akan diadakan di Monas. Acara dimulai jam 20.30 Wib sampai jam 22.00 Wib atau 22.30 Wib karena kita akan membaca Yasin 3 kali dan dzikir يا الله 1000 kali, jadi jika ada acara malam Nisfu Sya’ban di rumah atau di masjid dekat rumah masing-masing yang diadakan setelah maghrib maka hadirilah, karena masih ada waktu untuk hadir juga di Monas. Bayangkan jika nanti yang hadir di Monas adalah 1 juta jiwa maka pahala bacaan Yasin 1 juta akan kita dapatkan, subhanallah. Serta dzikir يا الله 1000 X dikalikan 1 .000.000 maka pahala 1.000.000.000 dzikir يا الله akan kita dapatkan, belum lagi dikalikan 700 karena malam Nisfu Sya’ban termasuk ke dalam hari-hari yang mana amal kebaikan dilipatgandakan hingga 700 kali lipat. Adapun mengenai malam Nisfu Sya’ban terdapat pendapat yang mengatakan bahwa di malam Nisfu Sya’ban itu ditentukannya ajal, rizeki, dan jodoh atau anak-anak kita, namun pendapat jumhur ulama’ sebagaimana dikatakan oleh Al Imam An Nawawi bahwa hal tersebut ditentukan di malam Lailatul Qadr. Akan tetapi dijelaskan dalam Tuhfah Al Ahwadzy dalam memadukan kedua pendapat ini, para ulama’ berpendapat bahwa di malam Nisfu Sya’ban itu ditentukan urusan keduniawian seperti rizeki, pekerjaan, menikah, mempunyai keturunan dan lainnya, sedangkan di malam Lailatul Qadr bulan Ramadhan adalah penentuan urusan-urusan akhirat seperti derajat di akhirat, pengampunan Allah di alam kubur, dimudahkan dalam hisab, dan lainnya, maka tidak selayaknya untuk tidak kita perhatikan kedua malam tersebut. Selanjutnya kita bershalawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ditulis Oleh: Munzir Almusawa   
Saturday, 07 July 2012

Selasa, 20 Desember 2011

Jalinan Yang Penuh Makna




Sahabatku, dalam sebuah kebersamaan akan terjalin sebuah persahabatan dan pertemuan. Akan tetapi, tidak semua dari yang bersahabat adalah sama-sama beruntung. Keberuntungan seseorang tersembunyi di balik kalbunya ketika menjalin persahabatan. Dua orang yang bersahabat, jika dibalik persahabatannya ini salah satu dari keduanya selalu berharap kemuliaan di Akhirat, sementara yang satu lagi tidak menjalin pesahabatan  kecuali hanya untuk keuntungan di dunia saja. Maka, walaupun keduanya sama-sama berangkat ke masjid, makan bersama atau bahkan tidur bersama,  akan tetapi apa yang didapat oleh keduanya tidaklah sama. Yang satu orang beruntung dan yang satunya lagi orang yang merugi.

Siapapun dari kita harus mencermati apa yang tersembunyi di balik kalbu kita. Ada apa di balik kedekatan kita dengan seorang sahabat ? Jika seorang Pejabat menjalin persahabatan dengan seorang Ustadz  maka yang paling beruntung adalah yang memanfaatkan kedekatan tersebut untuk mendapatkan kemuliaan di hadapan Allah SWT. Dan alangkah celakanya jika sang Ustadz dekat dengan Penguasa atau Pejabat hanya mengharap keuntungan dunia.  Begitu juga alangkah ruginya jika seorang Pejabat yang dekat dengan ustadz hanya untuk kepentingan dunianya saja
Rasulullah SAW pernah bersabda " Bararangsiapa yang merendah kepada orang kaya ( berpangkat di dunia ) karena dunianya, maka telah hilang dua pertiga (nilai) keberagamaanya."
Ini adalah peringatan  dari Rasulullah SAW agar kita memahami makna sebuah kedekatan. Karena kejahatan hati amatlah tersembunyi dan tidak ada yang bisa mengoreksinya kecuali diri sendiri yang sering mencermatinya.

Sahabatku, dalam kesempatan lain Rasullah SAW juga pernah bercerita. Ada dua orang yang berbeda dalam  menjalani hidupnya. Yang pertama adalah orang yang terlihat baik karena kesehariannya hanya beribadah di atas gunung. Yang satu lagi adalah seorang pemuda, Preman pasar yang secara lahir adalah kotor dan jahat karena pekerjaaanya hanya membuat keributan dan mengganggu orang-orang dipasar. Dan, takdir Allah mempertemukan keduanya di suatu tempat.
Sang Ahli ibadah saat itu kehabisan bekal sehingga ia harus membeli bekal di tengah pasar. Pada saat yang bersamaan, sang Preman pasar berkeinginan untuk bisa dekat dengan Ahli Ibadah yang di atas gunung. Keduanya pun  menempuh tempat tujuan- masing  masing. Yang Ahli Ibadah turun ke Pasar dan Preman Pasar pun menuju ke atas gunung. Akhirnya keduanya bertemu disuatu tempat berpapasan di jalan setapak dikaki bukit. Sang preman merasa terkejut saat berpapasan dengan ahli ibadah tersebut.Yang ada dihatinya adalah rasa kagum dan hormat pada sang ahli ibadah.Sementara sang ahli ibadah melihat sang preman merasa risih sehingga ia tidak menyapanya dan mengucapkan salam kepadanya.Yang ada adalah kesombonganya karena ia merasa sudah menjadi ahli ibadah yang sangat jauh lebih baik  jika dibanding dengan sang Preman . Disaat itu ternyata Allah SWT mencabut hidayah dari sang Ahli ibadah dan memindahkanya kepada sang Preman Pasar.
Dalam hal ini Rasulullah SAW menjelaskan bahwa itu terjadi disebabkan sesuatu yang tersembunyi di hati mereka berdua. Yang ada di hati sang Preman disaat bertemu adalah makna pengagungan kepada ulama Allah , dengan penuh harap agar pertemuan tersebut menjadi sebab Allah SWT mencintainya. Berbeda  dengan yang dirasakan oleh sang Ahli ibadah, yang ada di dalam hatinya bukannya menghadirkan makna kerinduan kepada Allah SWT, akan tetapi hatinya penuh dengan kesombongan sebagai Ahli Ibadah. Akhirnya yang terjadi adalah rasa meremehkan kepada sang Preman dan  bukan melihatnya sebagai ladang amal baik dengan mengajaknya kepada kebenaran dan menjauhkanya dari kejahatan.
Sahabatku, Jelaslah dalam hal ini kita harus bisa mencermati setiap jalinan yang kita rajut.
Anda yang Ustadz, apa makna  kedekatan Anda dengan para Pejabat dan Pengusaha ?
Anda yang Pejabat, apa makna kedekatan Anda dengan para Ulama, Pengusaha dan Fakir miskin?
Anda yang Pengusaha, apa makna kedekatan Anda dengan para Pejabat, Ulama dan Fakir miskin ? Sudahkah Allah SWT hadir dalam jalinan Anda?
Wallahu a'lam bissawab.

Biografi Ibnu Sina


Syeikhur Rais, Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina, yang dikenal dengan sebutan Ibnu Sina atau Aviciena lahir pada tahun 370 hijriyah di sebuah desa bernama Khormeisan dekat Bukhara. Sejak masa kanak-kanak, Ibnu Sina yang berasal dari keluarga bermadzhab Ismailiyah sudah akrab dengan pembahasan ilmiah terutama yang disampaikan oleh ayahnya. Kecerdasannya yang sangat tinggi membuatnya sangat menonjol sehingga salah seorang guru menasehati ayahnya agar Ibnu Sina tidak terjun ke dalam pekerjaan apapun selain belajar dan menimba ilmu.

Dengan demikian, Ibnu Sina secara penuh memberikan perhatiannya kepada aktivitas keilmuan. Kejeniusannya membuat ia cepat menguasai banyak ilmu, dan meski masih berusia muda, beliau sudah mahir dalam bidang kedokteran. Beliau pun menjadi terkenal, sehingga Raja Bukhara Nuh bin Mansur yang memerintah antara tahun 366 hingga 387 hijriyah saat jatuh sakit memanggil Ibnu Sina untuk merawat dan mengobatinya.


Berkat itu, Ibnu Sina dapat leluasa masuk ke perpustakaan istana Samani yang besar. Ibnu Sina mengenai perpustakan itu mengatakan demikian;

“Semua buku yang aku inginkan ada di situ. Bahkan aku menemukan banyak buku yang kebanyakan orang bahkan tak pernah mengetahui namanya. Aku sendiri pun belum pernah melihatnya dan tidak akan pernah melihatnya lagi. Karena itu aku dengan giat membaca kitab-kitab itu dan semaksimal mungkin memanfaatkannya... Ketika usiaku menginjak 18 tahun, aku telah berhasil menyelesaikan semua bidang ilmu.” Ibnu Sina menguasai berbagai ilmu seperti hikmah, mantiq, dan matematika dengan berbagai cabangnya.



Kesibukannya di pentas politik di istana Mansur, raja dinasti Samani, juga kedudukannya sebagai menteri di pemerintahan Abu Tahir Syamsud Daulah Deilami dan konflik politik yang terjadi akibat perebutan kekuasaan antara kelompok bangsawan, tidak mengurangi aktivitas keilmuan Ibnu Sina. Bahkan safari panjangnya ke berbagai penjuru dan penahanannya selama beberapa bulan di penjara Tajul Muk, penguasa Hamedan, tak menghalangi beliau untuk melahirkan ratusan jilid karya ilmiah dan risalah.



Ketika berada di istana dan hidup tenang serta dapat dengan mudah memperoleh buku yang diinginkan, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menulis kitab Qanun dalam ilmu kedokteran atau menulis ensiklopedia filsafatnya yang dibeni nama kitab Al-Syifa’. Namun ketika harus bepergian beliau menulis buku-buku kecil yang disebut dengan risalah. Saat berada di dalam penjara, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menggubah bait-bait syair, atau menulis perenungan agamanya dengan metode yang indah.



Di antara buku-buku dan risalah yang ditulis oleh Ibnu Sina, kitab al-Syifa’ dalam filsafat dan Al-Qanun dalam ilmu kedokteran dikenal sepanjang massa. Al-Syifa’ ditulis dalam 18 jilid yang membahas ilmu filsafat, mantiq, matematika, ilmu alam dan ilahiyyat. Mantiq al-Syifa’ saat ini dikenal sebagai buku yang paling otentik dalam ilmu mantiq islami, sementara pembahasan ilmu alam dan ilahiyyat dari kitab al-Syifa’ sampai saat ini juga masih menjadi bahan telaah.



Dalam ilmu kedokteran, kitab Al-Qanun tulisan Ibnu Sina selama beberapa abad menjadi kitab rujukan utama dan paling otentik. Kitab ini mengupas kaedah-kaedah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 masehi, kitab Al-Qanun karya Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Kini buku tersebut juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Al-Qanun adalah kitab kumpulan metode pengobatan purba dan metode pengobatan Islam. Kitab ini pernah menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di universitas-universitas Eropa.



Ibnu juga memiliki peran besar dalam mengembangkan berbagai bidang keilmuan. Beliau menerjemahkan karya Aqlides dan menjalankan observatorium untuk ilmu perbintangan. Dalam masalah energi Ibnu Sina memberikan hasil penelitiannya akan masalah ruangan hampa, cahaya dan panas kepada khazanah keilmuan dunia.



Dikatakan bahwa Ibnu Sina memiliki karya tulis yang dalam bahasa latin berjudul De Conglutineation Lagibum. Dalam salah bab karya tulis ini, Ibnu Sina membahas tentang asal nama gunung-gunung. Pembahasan ini sungguh menarik. Di sana Ibnu Sina mengatakan, “Kemungkinan gunung tercipta karena dua penyebab. Pertama menggelembungnya kulit luar bumi dan ini terjadi lantaran goncangan hebat gempa. Kedua karena proses air yang mencari jalan untuk mengalir. Proses mengakibatkan munculnya lembah-lembah bersama dan melahirkan penggelembungan pada permukaan bumi. Sebab sebagian permukaan bumi keras dan sebagian lagi lunak. Angin juga berperan dengan meniup sebagian dan meninggalkan sebagian pada tempatnya. Ini adalah penyebab munculnya gundukan di kulit luar bumi.”



Ibnu Sina dengan kekuatan logikanya -sehingga dalam banyak hal mengikuti teori matematika bahkan dalam kedokteran dan proses pengobatan- dikenal pula sebagai filosof tak tertandingi. Menurutnya, seseorang baru diakui sebagai ilmuan, jika ia menguasai filsafat secara sempurna. Ibnu Sina sangat cermat dalam mempelajari pandangan-pandangan Aristoteles di bidang filsafat. Ketika menceritakan pengalamannya mempelajari pemikiran Aristoteles, Ibnu Sina mengaku bahwa beliau membaca kitab Metafisika karya Aristoteles sebanyak 40 kali. Beliau menguasai maksud dari kitab itu secara sempurna setelah membaca syarah atau penjelasan ‘metafisika Aristoteles’ yang ditulis oleh Farabi, filosof muslim sebelumnya.



Dalam filsafat, kehidupan Abu Ali Ibnu Sina mengalami dua periode yang penting. Periode pertama adalah periode ketika beliau mengikuti faham filsafat paripatetik. Pada periode ini, Ibnu Sina dikenal sebagai penerjemah pemikiran Aristoteles. Periode kedua adalah periode ketika Ibnu Sina menarik diri dari faham paripatetik dan seperti yang dikatakannya sendiri cenderung kepada pemikiran iluminasi.



Berkat telaah dan studi filsafat yang dilakukan para filosof sebelumnya semisal Al-Kindi dan Farabi, Ibnu Sina berhasil menyusun sistem filsafat islam yang terkoordinasi dengan rapi. Pekerjaan besar yang dilakukan Ibnu Sina adalah menjawab berbagai persoalan filsafat yang tak terjawab sebelumnya.



Pengaruh pemikiran filsafat Ibnu Sina seperti karya pemikiran dan telaahnya di bidang kedokteran tidak hanya tertuju pada dunia Islam tetapi juga merambah Eropa. Albertos Magnus, ilmuan asal Jerman dari aliran Dominique yang hidup antara tahun 1200-1280 Masehi adalah orang Eropa pertama yang menulis penjelasan lengkap tentang filsafat Aristoteles. Ia dikenal sebagai perintis utama pemikiran Aristoteles Kristen. Dia lah yang mengawinkan dunia Kristen dengan pemikiran Aristoteles. Dia mengenal pandangan dan pemikiran filosof besar Yunani itu dari buku-buku Ibnu Sina. Filsafat metafisika Ibnu Sina adalah ringkasan dari tema-tema filosofis yang kebenarannya diakui dua abad setelahnya oleh para pemikir Barat.



Ibnu Sina wafat pada tahun 428 hijriyah pada usia 58 tahun. Beliau pergi setelah menyumbangkan banyak hal kepada khazanah keilmuan umat manusia dan namanya akan selalu dikenang sepanjang sejarah. Ibnu Sina adalah contoh dari peradaban besar Iran di zamannya.


I. PENDAHULUAN
Membahas dan menghilangkan sifat-sifat tercela ini bagi mahasiswa maupun di kalangan masyarakat umum sangatlah penting, karena dengan kita mengetahui sifat-sifat ini kita dapat menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal tersebut. Ini termasuk usaha tahliyyah mengosongkan / membersihkan diri dan jiwa lebih dahulu sebelum diisi dengan sifat-sifat terpuji. Sifat tercela in adalah terjemahan dari pada bahasa arab “sifahul mazmumah”, artinya sifat-sifat yang tidak baik yang tidak membawa seseorang manusia kepada pekerjaan-pekerjaan atau akibat-akibat yang membinasakan.
Imam Ghazali menyebut sifat-sifat tercela ini dengan sifat-sifat muhkilat, yakni segala tingkah laku manusia yang dapat membawanya kepada kebinasaan, sifat-sifat yang tercela ini beliau sebut juga sebagai suatu kehinaan. Pada dasarnya sifat-sifat yang tercela dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu maksiat lahir dan maksiat batin.
Maksiat lahir adalah segala sifat yang tercela yang dikerjakan oleh anggota lahir seperti mulut, tangan, mata dan lain-lain. Sedangkan maksiat batin adalah segala sifat yang tercela yang diperbuat oleh anggota batin, yaitu hati.[1]
II. PEMBAHASAN
A. Buruk Sangka (Suuzhan)
Buruk sangka adalah merupakan suatu perbuatan yang timbulnya dari lidah, tidak ada buruk sangka terhadap seseorang, jika lidah tidak bicara / mengata-ngatai.
Sesungguhnya prasangka buruk terhadap seorang muslim disertai fakta yang benar merupakan kendaraan melalui jalan yang kasar dan aib, serta dapat menjadi wabah kemadlaratan bagi masyarakat Islam. Prasangka buruk bukanlah suatu dosa bila hanya bisikan hati sesaat dalam jiwa manusia.[2]
Prasangka dihasilkan dari perbuatan dan perkataan seseorang atau gerak gerik orang yang mendapat tuduhan tertentu dari orang lain. Biasanya prasangka timbul bila seseorang berada dalam situasi yang sulit. Secara psikologis prasangka dapat melahirkan kecenderungan hati untuk menuduh orang lain yang menganggap jelek diri kita. Oleh karena itu Nabi bersabda :
حديث ابىهريرة رضي الله عنه، انّ رسول الله صلىالله عليه وسلم قال : اِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ اَكْذَبُ الْحَدِيْثِ {رواه البخارى}
“Dari Abu Hurairah r.a bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : hendaklah kamu menjauhkan dari sangkaan”, karena sesungguhnya sangkaan itu omongan yang paling berdusta”. (HR. Bukhari).[3]
Sering kita melihat orang yang menuduh orang lain jelek, dan berusaha untuk mengintai orang lain tanpa hak, setelah meneliti dan menemukan suatu kesimpulan dia berghibah (membicarakan kejelekan) terhadap saudaranya yang muslim. Orang yang berbuat seperti itu sama saja dengan melakukan tiga dosa, yaitu dosa karena berprasangka, dosa dari menyelidiki kejelekan orang lain, dan dosa dari membicarakan kejelekan orang lain. Begitulah prasangka jelek itu akan menarik manusia berbuat dosa lebih banyak. Oleh karena itu Allah SWT melarang attjassus “mengintip-intip” dan ghibah. Setelah melarang suudzan “buruk sangka” sebagai peringatan terhadap orang Islam agar tidak menempatkan diri pada posisi yang menjurus kepada suudzan terhadap orang muslim yang adil dan terjaga dari perbuatan dosa.[4]
B. Takabur dan Tahasud
وعن عبدالله بن مسعود رضي الله عنه عن النبي صلىالله عليه وسلم قال : لاَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ من كان فىقَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ {رواه مسلم}
“Dari Abdillah ibn Mas’ud r.a dari Nabi SAW, beliau bersabda : tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sifat sombong, walaupun hanya sebesar atom”. (HR. Muslim).[5]
Takabur artinya : sombong, congkak atau merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain, baik kedudukan, keturunan, kebagusan, petunjuk, dan lain-lain.
Takabur itu terbagi atas 2 macam yaitu :
Takabur batin : yang merupakan pekerti di dalam hati
Takabur lahir : yang merupakan kelakuan-kelakuan yang keluar dari anggota badan, kelakuan-kelakuan ini amat banyak sekali bentuknya dan oleh karena itu sukar untuk dihitung dan diperinci satu persatu.
Jelasnya ialah orang yang menghinakan saudaranya sesama muslim melihatnya dengan mata ejekan, menganggap bahwa dirinya lebih baik dari yang lain, suka menolak kebenaran, sedangkan ia telah mengetahui bahwa itulah yang sesungguhnya benar, maka jelaslah bahwa orang tersebut dihinggapi penyakit kesombongan dan mengabaikan hak-hak Allah, tidak mentaati apa yang diperintahkan olehnya serta melawan benar-benar pada zat yang maha kuasa.
Takabur itu hukumnya haram, kecuali pada 2 tempat :
1. Sombong terhadap orang yang sombong
2. Sombong diwaktu peperangan terhadap orang-orang kafir.[6]
Tahasud
عن ابى هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلىالله عليه وسلم : اِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ ياء كل الحَسَنَاتِ كَمَاتَاءْ كُلُ النَّارُ الْحَطَبَ {اخرجه ابودود}
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasul bersabda takutlah kamu terhadap akibat hasud, sebab hasud itu dapat memakan (menghilangkan) semua kebaikan, seperti makannya api terhadap kayu bakar.[7]
Hasud adalah al-munafasah “bersaing”. Perbuatan hasud ini tidak terjadi kecuali karena suatu nikmat yang diberikan Allah kepada seseorang, barang siapa yang membenci nikmat dan menginginkan hilangnya nikmat dari saudaranya Muslim maka orang itu termasuk orang yang hasud. Oleh karena itu definisi hasud adalah membenci nikmat yang diberikan Allah kepada orang lain dan menginginkan hilangnya nikmat itu, sekalipun dengan cara memberi kuasa kepada orang lain untuk menghilangkan nikmat itu.[8]
C. Membuka aib orang lain
وعن ابى هريرة رضي الله عنه انّ رسول الله صلىالله عليه وسلم قال اَتَدْرُوْنَ مَالْغِيْبَةُ؟ قالوا : اللهُ وَرَسُوْلُهُ اعلمُ : قال ذِكْرُ كَ اَخَاكَ بِمَايَكْرَهُ قَالَ اَفَرَاَيْتَ اِنَ كَانَ فِىاَخِى مَااَقُوْلُ، قَالَ : اِنْ كَانَ فِيْهِ مَاتَقُوْلُ فَقَدِاغْتَبْتَهُ، وَاِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَاتَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ. {رواه مسلم}
Dari Abu Hurairah r.a bahwasanya Rasulullah SAW bertanya : “Tahukah kamu sekalian, apakah menggunjing itu? Para sahabat berkata: Allah dan Rasulnya lebih mengetahui, beliau bersabda : “Yaitu bila kamu menceritakan keadaan saudaramu yang ia tidak menyenanginya. Ada seorang sahabat bertanya : bagaimana seandainya saya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada saudaramu itu maka berarti kamu telah menggunjingnya tidak terjadi pada saudaramu, maka kamu benar-benar membohongkannya” (Riwayat Muslim).[9]
Ghibah / menggunjing adalah merupakan suatu perbuatan tercela yang timbulnya dari lidah. Ghibah dengan buruk sangka adalah suatu perbuatan yang hampir-hampir sama, hanya ada perbedaannya sedikit.
Ghibah (menggunjing) à membicarakan kejelekan orang dibelakang orangnya.
Buruk sangka à suatu anggapan tentang orang lain yang boleh jadi benar / salah dengan berdasarkan data-data yang jauh sekali dari kebenaran. Buruk sangka terhadap seseorang sangatlah dicela oleh Islam. Sebab hal ini bisa mengakibatkan pertumpahan darah, karena itu Islam menyuruh menjauhi sifat tersebut.
Buruk sangka dikatakan perkataan dusta karena dua hal : benarnya belum tentu, sedang salah lebih besar dan pasti. Seperti halnya Ghibah, keduanya mencemarkan kehormatan seseorang yang ditimpa buruk sangka.
Humazah yakni mengumpat à orang yang menusuk perasaan seseorang, melukai hati dan memburuk-burukkan orang lain.
Lumazah à penggunjing yang suka daging sesama manusia disebabkan gemar mengumpat.[10]
D. Boros
وعن عَمْرِ وبن شُعَيْبٍ عن اَبِيْهِ عن جَدِّهِ رضي الله عنهم قال : قال رسول الله صلىالله عليه وسلم كُلْ وَاشْرَبْ وَالْبَسْ وَتَصَدَّقْ فِى غَيْرِ سَرَفٍ وَلاَ مَحِيْلَةٍ. {اخرجه ابودود واحمد، وعلَّقَهُ لِلْبُخَاريّ}
Dari Amr Putra Syuaib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata : bersabda Rasulullah SAW, makan, minum, dan berpakaianlah serta bersedekahanlah dengan tidak lebih berlebihan dan bukan tujuan sombong”. (Hadits dikeluarkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Ahmad). Imam Bukhari menyatakan ta’liqnya.[11]
Pada hakikat sesungguhnya harta benda itu adalah merupakan nikmat yang besar dari Allah SWT. Karena itu berlaku boros dan berroyal dengan harta itu hukumnya haram sebab ada nash yang mencegah hal itu. Demikian juga dihukumi dengan haram kikir membelanjakan harta benda; sebaik-baik penggunaan harta yaitu secara pertengahan dan sedang-sedang, tidak berlebih-lebihan dan berlaku kikir.
Boros / royal terhadap benda yaitu penggunaan harta benda secara berlebihan tanpa ada manfaatnya baik untuk kepentingan duniawi maupun kepentingan ukhrawi, sehingga kemanfaatan harta itu menjadi sia-sia dan tidak memberikan manfaat, misalnya membuang harta ke dalam lautan / membakarnya ke dalam api, tidak memetik buah-buahan yang telah masak di pohon sehingga ia menjadi busuk / rusak dan tidak bisa diambil kemanfaatannya.[12]
III. KESIMPULAN
Akhlak tercela dalam Islam sangat membahayakan dalam pergaulan sehari-hari. Jadi sia-sialah segala amal kebaikan apabila penyakit hati berada dalam hati kita dan akan mengganggu pula ketenangan jiwa kita. Oleh sebab itu apabila penyakit hati sudah mulai bersarang dan berkembang di dalam hati segeralah diobati dengan jalan zuhud (tidak tertarik dan mementingkan kepada keduniawian).
IV. PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami buat, semoga dapat memberi manfaat bagi yang membacanya. Tentunya banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan dalam penulisan makalah ini baik terlebih masalah isi, untuk itu penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Drs. Asmaran AS. MA., Pengantar Study Ahlaq, Rajawali Pers, Jakarta, 1992.
Imam Ghazali. Bahaya Lidah, Bumi Aksara, Jakarta, 1990.
Hasan Ayyub, Etika Islam, Trigenda Karya, Bandung, 1994.
Riyadlussalihin, Jilid I.
Riyadlussalihin, Jilid II.
Drs. Anwar Mas’ari, MA., Ahlaq al-Qur’an, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1990.
Bulughul Maram.


[1] Drs. Asmaran AS. MA., Pengantar Study Ahlaq, Rajawali Pers, Jakarta, 1992, hal. 183
[2] Imam Ghazali. Bahaya Lidah, Bumi Aksara, Jakarta, 1990, hal.
[3] Riyadlussalihin, hal. 190
[4] Hasan Ayyub, Etika Islam, Trigenda Karya, Bandung, 1994, hal. 124
[5] Riyadlussalihin, Jilid I, hal. 576
[6] Drs. Anwar Mas’ari, MA., Ahlaq al-Qur’an, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1990, hal. 210
[7] Bulughul Maram, hal. 761
[8] Hasan Ayyub, op.cit., hlm. 113
[9] Riyadlussalihin, Jilid II, hal. 393
[10] Imam Ghazali, op.cit., hlm. 64
[11] Bulughul Maram, hal.
[12] Drs. Anwar Mas’ary, op.cit., hlm. 228