Tulisan Berjalan

اللهم صل على سيدنا محمد

Selasa, 06 Desember 2011

Indahnya Sebuah Seruan



Didalam menyeru kepada kebaikan tentu ada tata krama yang tidak pernah terlepas dari makna ilmu dan akhlak. ‘ Ilmu ’ saja tanpa akhlak tidak bisa membangun, dan ‘ Akhlak ’ tanpa ilmu adalah lemah, maka harus digabungkan antara ilmu dan akhlak. Dalam irama mengajak kepada kebaikan, tugas kita adalah menjauhkan siapapun dari murka Allah SWT. Seorang muslim harus semakin didekatkan kepada Allah SWT dan ditarik dengan penuh kerinduan agar ia bisa merindukan Allah SWT. Dan yang belum masuk Islam harus diajak dengan penuh kasih sayang agar kenal Allah SWT.
Ada beberapa hal yang harus dicermati disaat kita mengajak kepada kebaikan :
Pertama adalah Koreksi. Disaat kita melihat kesalahan yang kita duga ada pada orang lain, maka mula-mula yang harus kita lakukan adalah menemukan kesungguhan sebuah kesalahan, jangan sampai terlanjur kita mengangkat suara menyalahkan orang lain ternyata kesalahan justru ada pada diri kita. Kita harus mengoreksi diri terlebih dahulu dengan mendiskusikannya kepada pakarnya agar jangan salah dalam menyalahkan orang. Disini ada makna pengukuhan dan pendalaman ilmu. Jika kita menemukan kesalahan ada pada diri kita, maka segeralah kita menginsyafinya dan memohon maaf. Dan jika kesalahan ada pada orang lain maka saat itulah kita menuju langkah berikutnya dalam mengajak kepada kebaikan. Artinya, jika langkah yang pertama ini belum kita lakukan maka sungguh tidak pantas kalau kita menuju kepada langkah berikutnya.
Kedua, bila kita menemukan kesalahan ada pada orang lain. Kita harus bedakan apakah kesalahan tersebut dilakukan dengan  sengaja menentang Allah SWT atau karena ia belum tahu kalau dia salah ? Karena ini adalah dua model manusia yang  sangat berbeda ketika kita mengajaknya kepada kebenaran.
Jika ternyata ia tergolong yang melakukan kesalahan karena ia belum tahu, karenanya ia berbuat kesalahan maka cukuplah kita tunjukkan kebenaran kepadanya dengan keindahan dan jangan ditambah lagi dengan celaan dan cacian. Sebab saat kita menunjukkan kebenaran kepadanya sungguh itu sama artinya kita mengatakan kepadanya jika  ia salah. Setelah itu jangan sampai kita  memutuskan silaturahim baik disaat ia menerima atau tidak kebaikan yang kita sampaikan.
Ketiga adalah Kesabaran, Jangan mudah putus asa, karena dakwah adalah perjuangan indah yang tiada henti, sebagaimana Rosulullah Muhammad SAW membangun keindahan dengan keindahan hingga beliau menghadap Allah SWT
Wallahu  a'lam bissawab.

Dialah Seorang Hamba, Namun Teramat Mulya



Seorang Hamba, Namun Teramat Mulya
Satu ayat Al-Quran bercerita tentang"isra"nya Rasulullah SAW,  dan ketika itu disebutkan bahwa Rasulullah SAW itu adalah seorang hamba  "biabdihi". Begitu juga tentang "mi'raj"nya  Rasulullah SAW beliau sendiri menceritakan dengan ungkapan hamba "faauha ila abdihi".
Sebuah ungkapan pendidikan Iman kepada Allah SAW sang Pencipta dan Iman kepada Rasulullah SAW  yang seorang hamba namun  amat di cintai dan di muliakan oleh Allah SWT. Pendidikan iman yang amat halus dan cermat. Ungkapan yang mengingatkan kita kepada keberadaan Rasulullah SAW yang sebenarnya yaitu seorang hamba pilihan.
Makna yang tersirat dalam ungkapan indah  itu adalah; Rasulullah SAW menjalani isra dan mi'raj, setinggi apapun Rasulullah meniti perjalanan mi'raj, dan semulia apapun tempat yang beliau kunjungi, akan tetapi tetaplah Rasulullah SAW adalah seorang hamba yang tidak akan  berubah menjadi selain hamba Allah SWT. Itulah Rasulllah SAW yang dalam pengalaman istimewa ini Allah SWT dengan sengaja menggelarinya sebagai hamba.
Ini sangat sesuai dengan apa yang pernah di peringatkan oleh Rasulullah "laatuhhruuni kamaa athratinnasooro 'iisaa ibna maryama" agar kita tidak menyanjung berlebihan kepada Rasulullah SAW seperti yang dilakukan kaum nasrani dalam menyanjung Nabi Isa AS. Yaitu dengan menyanjung dan mengangkat Nabi Isa hingga  sampai derajat ketuhanan.
Artinya Rasulullah SAW biarpun telah melampaui tempat mulia sidratul muntaha akan tetapi beliau tetaplah hamba Allah SWT. Hamba Allah SWT  saat di bumi dan hamba Allah SWT saat di atas langit. Dan sungguh gelar hamba itulah gelar yang sangat di cintai oleh Rasulullah SAW.
Makna lain yang bisa dimengerti adalah, Rasulullah biarpun seorang hamba akan tetapi beliau telah diagungkan dan dimuliakan oleh sang pencipta Allah SWT. Dan kitapun diperintahkan untuk memuliakanya. Allah SWT sangat menganjurkan kita  agar menyanjung makhluk paling agung dan mulia ini dalam kesehari-harian kita. Sanjungan ini tidak ada batasnya. Kita boleh mengagungkan dan memuliakan  Rasulullah SAW dengan pengagungan sepuas hati kita. Sebab semua kemuliaan dan keagungan yang ada pada semua makhluq Allah SWT adalah dibawah kemulyaan dan keagungan yang ada pada Rasulullah SAW. Kita boleh mengangkat Rasulullah SAW setinggi-tingginya karena hanya beliaulah yang mencapai pangkat dan tempat tertinggi. Akan tetapi dengan catatan jangan sampai kita mencabut sifat "kehambaan "dari Rasulullah SAW.
Suatu kepincangan dalam keimanan adalah, yang mempercayai  Rasulullah SAW sebagai seorang hamba yang di angkat tinggi-tinggi oleh Allah SWT dalam tempat dan pangkat akan tetapi begitu keberatan jika ada sanjungan diberikan kepada Rasulullah SAW. Begitu juga suatu pemusnahan terhadap iman adalah menyanjung Rasulullah SAW dengan sanjungan yang menghilangkan sifat kehambaan Rasulullah SAW.
Wallahu a'lam bishshowab.
http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bT*xJmx*PTEyODQzODI5NDMwMDAmcHQ9MTI4NDM4MzAxMjIwMyZwPTIzODk4MSZkPUlzbGFtaWMlMjBDYWxlbmRhciUzYSUyMG9y/bmFtZW5*MDEmZz*xJm89NGMyMGE3ODdiMGUyNDFlYzg1ODFhOTgzNDNkZmNjNmMmb2Y9MA==.gif

Berfikir Cerdas Dengan Mempermudah Pernikahan




Orang tua yang begitu bersemangat untuk mencarikan obat bagi anaknya yang sedang sakit. Sungguh semangat yang tiada tandingnya, rela mengkorbankan semua yang dimilikinya demi kesembuhan sang anak, sehingga orang tua akan marah-marah jika ternyata anak yang sedang di obati ogah-ogahan meminum obat tersebut. Begitu juga orang tua yang mencubit paha anaknya yang berusia 7 tahun karena menyeberang jalan tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan hingga hampir saja tersambar sebuah mobil yang berkecepatan tinggi.

Itulah gambaran kasih sayang dan cinta yang tertuang dalam kepedulian dan pengorbanan. Ada kebutuhan anak yang teramat penting akan tetapi banyak orang tua yang sering ogah-ogahan dalam memenuhinya. Adalah kebutuhan seorang anak yang tidak lagi disebut seorang anak akan tetapi seorang anak yang sudah menjadi lelaki dan perempuan dewasa. Pada usia tertentu seorang tua tidak boleh melihat seorang anak hanya sekedar sebagai seorang anak akan tetapi ada saat-saat tertentu seorang anak harus dilihat sebagai seorang laki-laki atau seorang wanita yang membutuhkan pemenuhan dalam masalah "seks".

Adalah kebutuhan seorang anak yang tidak lagi disebut seorang anak akan tetapi seorang anak yang sudah menjadi lelaki dan perempuan dewasa. Zaman ini adalah zaman yang amat berat menguji muda-mudi dengan maraknya perzinaan dan pergaulan yang menghantar kepada perzinaan. Teringat sabda Nabi SAW, "Sebaik-baik pernikahan adalah yang dipermudah dan disegerakan".

Pernyataan dari Rasulullah SAW tersebut merupakan sabda sekaligus solusi bagi problema remaja saat ini, dan bagi sebagian orang yang beranggapan bahwa pernikahan dini sulit mencapai kebahagiaan. Yang harus dimengerti adalah pernikahan dini bukan pernikahan sebelum waktunya akan tetapi pernikahan dini adalah menyegerakan pernikahan dan mempermudah urusan pernikahan. Saat adanya tanda- tanda bahwa sang anak sudah mendekati perzinahan, maka wajib bagi orang tua manapun untuk bersegara mencarikan solusi! Dan sungguh jika ada anak lapar seorang tua bisa memberinya makanan dan jika anak sakit orang tua bisa membelikan obat untuk anaknya. Akan tetapi jika anak sudah mengenal "seks" dengan matanya lewat adegan kotor di tv atau dengan telinganya lewat obrolan-obrolan jorok di sekolahnya atau dengan pikiranya lewat bacaan dan gambar-gambar porno, dibarengi dengan pergaulan diluar rumah yang tidak terkontrol, hingga sampailah anak tersebut pada batas butuh kepada pemenuhan kebutuhan seks.

Hal itu tidak akan terselesaikan bila sekedar diganti dengan makanan enak atau yang lainya. Dan orang tua tidak akan bisa memenuhi kebutuhan sang anak kecuali dengan membuka jalan pernikahan. Disinilah peran orang tua harus hadir. Membincangkan masalah pernikahan dengan anak demi keselamatan sang anak. Terlepas dari usia sang anak, pembatasan usia bukan solusi akan tetapi justru problem. Pernikahan bisa diatas 16 tahun dan bisa dibawah 16 tahun. Asal ada tanda-tanda suka dengan lawan jenis saat itulah orang tua harus bisa mendiskusikanya dengan sang anak. Dari situlah akan hadir makna pengarahan sekaligus pemahaman seberapa besar kebutuhan sang anak kepada seks , lalu dilanjutkan dengan solusi yang baik.
Teringat sabda Nabi SAW, "Sebaik-baik pernikahan adalah yang dipermudah dan disegerakan"..

Pernikahan tidak harus menunggu usia tertentu atau jenjang pendidikan tertentu atau karir tertentu. Akan tetapi kapan anak butuh akan pernikahan maka saat itulah usia nikah yang tepat untuknya . Ada sebagian orang bersemangat menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi dengan harapan mendapatkan keahlian untuk bisa bekerja di tempat yang layak.Akan tetapi ia teledor akan hal yang dibutuhkan anaknya yang setiap hari bepergian dengan lawan jenis , atau saling telepon yang hanya membangkitkan hawa nafsu. Bahkan disaat sang anak berterus -terang akan jalinannya dengan lawan jenis lalu meminta untuk menikah, tiba-tiba yang ada adalah jawaban keras dari orang tua yang memangkas keberanian dalam menyampaikan apa yang ada di hatinya.Yaitu jawaban yang penuh ego "aku tidak izinkan engkau menikah kecuali engkau telah selasai kuliah".

Apa yang terjadi pada sang anak, disatu sisi ia harus patuh kepada orang tua di sisi lain ia dia ambang bahaya pergaulan dengan lawan jenis. Maka iapun menyelesaikan kuliah hingga sarjana dan gelarpun di raih akan akan tetapi ada gelar tambahan yang tidak tertera bersama namanya yaitu gelar Pezina.Na’udzubillah… Orang tua yang lalai akan keselamatan moral anaknya, yang hanya berfikir tentang karir dan gelar kemulyaan di dunia akan tetapi lalai akan kemuliaan sang anak di akhirat nanti, itulah orang tua yang akan menuai penyesalan panjang di akhirat nanti, menuai dosa zina yang dilakukan sang anak.

Wallahu a'lam bishshowab.

Arti Sebuah Kerinduan



Yang terucap dengan lidah kita, tentang Allah SWT, ridho Allah SWT, surga, neraka, iman kepada Allah SWT,  Rasulullah SAW dan segala yang hal di seputar  Islam. Sudahkan kalimat-kalimat tersebut disaat terucap di bibir, sekaligus dirasa oleh hati nurani kita.  Berapakali kita menghadiri diskusi tentang Islam, seminar tentang syariah, perencanaan dalam da'wah dan lain sebagainya. Sebarapa besar makna kedekatan kita kepada Allah SWT kita rasakan dari segala gebyar aktivitas tersebut. Teringat sabda nabi SAW, " Ada orang membaca al-Qur'an, akan tetapi  bacaannya tidak bisa melewati tenggorokannya." Artinya ada orang berbicara tentang perjuangan untuk Islam, syariat Islam, Allah SWT dan lain  sebagainya. Akan tetapi pembicaraan tersebut hanya bergema ditenggorokannya saja dan tidak bisa terus meresap kehati.
Ada orang yang sibuk diskusi tentang Islam dan berbicara tentang pemikiran Islam dan Islam akan tetapi diskusi dan pembicaraan tersebut hanya berputar-putar diseputar otak kepalanya dan tidak bisa di hayati oleh hatinya. Ada orang yang lantang suaranya mengajak orang lain kepada Allah SWT dengan metode penyampaian yang amat menarik, akan tetapi ajakan tersebut hanya untuk orang lain sementara hatinya sendiri tidak merasa terpanggil untuk menyambut ajakan tersebut. Itulah orang-orang yang didustakan oleh Allah SWT kelak di Akherat. Di dunia mempunyai gelaran kebesaran dalam urusan agama, akan tetapi gelar-gelar tersebut tidak mereka ketemukan di akhirat.
Yang kita lakukan disaat ini dan disaat-saat yang telah lalu dari diskusi tentang Islam dan da'wah.

Yang sering kita suarakan dan kita perdengarkan kepada orang lain tentang iman, surga, neraka dan lain sebagainya. Sudahkan semua itu menjadikan kita semakin takut kepada Allah SWT, semakin rindu kepada Allah SWT, semakin mengagungkan Allah SWT, Rasulullah SAW dan Islam? Pernahkah disaat kita mendiskusikan syari'at Islam, tiba-tiba kita mendengar suara adzan, lalu kita bergegas menyambut seruan muadzin untuk khusu' shalat berjamaah? Sudahkah kita yang disiang hari sibuk berbicara tentang ridha Allah SWT, surga dan kerinduaan kepada Allah SWT, lalu ditengah malam kita mengkhususkan waktu untuk memadu kasih dengan Allah SWT? Jika ini semua belum pernah kita lakukan, tanyakan kepada hati kita sendiri! Apa makna perjuangan kita tentang Islam, Allah SWT dan Rasulullah SAW  kalau bukan untuk menumbuh suburkan kerinduan kita kepada Allah SWT? Apa arti sebuah pemikiran tentang Islam, jika bukan untuk menjadikan kita rindu keselamatan di akhirat? Apa arti kalimat yang diucapkan oleh lidah kita tentang kecintaan kepada Allah SWT dan Islam, jika tidak kita sambung dengan merintih khusu' dalam ibadah kita kepada Allah SWT di sepinya malam?
Ya Allah, pencipta cinta dan kerinduan, jadikanlah kecintaan dan kerinduan kami hanya kepada-Mu dan karenamu!Ya Allah jadikanlah kami adalah orang-orang yang gemar menyampaikan kebenaran sekaligus mudah untuk mendengarnya! Ya Allah Jadikanlah kami orang-orang yang menyeru kepada kerinduan kepada-Mu dengan hati dan lidah kami!Ya Allah jadikanlah kami sebab rindunya hamba- hamba-Mu kepada-Mu! Wallahu a'lam bishshowab

Arti Sebuah Harapan



Alangkah banyaknya pekerjakan yang telah kita kerjakan dari pagi hingga petang, dan kadang berlanjut hingga tengah malam, bahkan ada yang bersambung hingga pagi berikutnya. Akan tetapi, adakah itu semua telah dibarengi dengan sesuatu yang amat penting yang akan menjadikan semua aktivitas kita bermakna? Ia adalah niat, maksud dan tujuan. Ia adalah ruh dari semua amal perbuatan kita. Disitulah letak pandang dan penilaian Allah SWT.
Kemuliaan seseorang tergantung pada apa yang di kandung hatinya. Penarik becak, penjual bakso, seorang ustadz, pejabat dan  semuanya, sama-sama jelek di hadapan Allah SWT, jika yang terkandung di dalam hatinya adalah rencana busuk, niat yang jelek dan tujuan yang tidak baik. Begitu juga sebaliknya  mereka sama-sama mulia di hadapan Allah SWT, jika yang terkandung di dalam hatinya maksud yang mulia. Rasulullah SAW pernah bersabda, bahwa karena niat yang terkandung di hati ada pekerjaan terlihat dalam bentuk dunia akan tetapi dinilai oleh Allah SWT sebagai amal akhirat, ada amal yang terlihat sebagai amal akhirat akan tetapi, dinilai Allah SWT sebagai amal dunia yang buahnya tidak bisa di petik di akhirat.
Seseorang yang sedang mengerjakan shalat, berdakwah dan berinfaq mendapatkan nilai maksiat jika semua itu dilakukan tidak disertai niat baik yang tulus dalam mengabdi kepada Allah SWT. Akan tetapi bisa jadi bagi mereka yang  hanya berurusan dengan pasar, sawah dan perusahaan akan mendapatkn nilai jihad dan kemuliaan karena ketulusan hatinya dalam merindu ridho Allah SWT di penghujung harapannya.
Marilah kita insyafi makna ini agar aktivitas kita ada nilainya dihadapan Allah  SWT. Dan Sebelum kita pergi melaksanakan aktivitas, marilah menghadap kepada Allah SWT dengan air wudhu lalu sholat hajat dua rokaat, kemudia memohon kepada Allah SWT agar mempermudah urusan kita, lalu kita tutup dengan merenungi apa yang ada di hati kita. Sudahkah kita berniat yang baik dan rindu ridho Allah SWT dalam aktivitas ini? Kemudian, senantiasa sertakan makna ini sepanjang kita beraktivitas. Jika kita benar-benar serius dan tulus dalam merenung ini sungguh sepanjang kita beraktivitas akan terjauh dari pelanggaran kepada Allah SWT. Sebab yang menuju Allah SWT akan senantiasa mengambil cara yang di ridhoi Allah SWT agar sampai kepada tujuan. Dan tujuan sebaik apaun jika cara yang kita ambil untuk sampai ke tujuan tidak baik, itu pertanda bahwa niat dan tujuan kita bukanlah yang baik.  Dan bagaimanapun juga  kita tidak akan sampai kepada tujuan yaitu ridho Allah SWT.
Wallahu a'lam bishshowab.
http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bT*xJmx*PTEyODQzODI5NDMwMDAmcHQ9MTI4NDM4MzAxMjIwMyZwPTIzODk4MSZkPUlzbGFtaWMlMjBDYWxlbmRhciUzYSUyMG9y/bmFtZW5*MDEmZz*xJm89NGMyMGE3ODdiMGUyNDFlYzg1ODFhOTgzNDNkZmNjNmMmb2Y9MA==.gif

Agar Orang Tua Tidak Tertipu


AGAR ORANG TUA TIDAK TERTIPU
Saat ini anak-anak kita yang di kelas 6 SD, 3 SMP dan SMA di hadapkan pada harapan baru jenjang sekolah yang lebih tinggi. Disini peran orang tua harus jelas dan tegas dalam memilihkan sekolah untuk mereka. Yang harus di mengerti adalah anak kita tidak mungkin hidup sendiri akan tetapi anak kita akan bertemu dengan teman baru dan lingkungan yang baru. Semua itu harus jadi perhitungan orang tua dalam memilihkan sekolah untuk anak-anaknya. Dan saat ini pun  anak kita juga punya  pergaulan yang sedikit atau banyak telah membentuk watak dan mempengaruhi harapan-harapanya. Maka tidak benar jika orang tua dalam hal ini menyerahkan sepenuhnya kepada pilihan anak. Akan tetapi jauh-jauh hari orang tua harus sudah memikirkan dan merencanakan dimana anaknya hendak sekolah di samping memperhatikan kemauan dan bakat sang anak. Dalam Kriteria orang tua yang terpenting adalah keselamatan akhlak dan agama anak-anaknya kemudian tercapai cita-cita mulianya.
Islam sangat mendukung orang-orang aktif, ktreatif dan inovatif sebagai penguat Islam. Maka kita butuh dokter, pakar ekonomi, pakar politik dan ahli pertanian yang semua itu tidak lain adalah demi tertunaikanya kewajiban fardhu kifayah kita. Akan tetapi semua itu tidak ada nilainya di hadapan Allah jika bukan dari orang-orang yang kenal Allah. Karena keahlian bagi orang yang tidak kenal Allah adalah pembuka celah baru untuk bermaksiat. Bahkan ada kemaksiatan besar yang sulit di lakukan kecuali oleh orang-orang yang punya keahlian, atau ada kemaksiatan tidak di rasa sebagai kemaksiatan karena kebodohan. Jika kita ingi anak kita menjadi dokter harus kita rencanakan bagaimana agar menjadi dokter yang berakhlaq mulia, rajin solat yang bisa menitikkan air mata di malam hari karena takut kepada Allah. Begitu juga kepakaran yang lainya. Kita tidak ingin ilmu fardhu kifayah di peroleh  oleh anak kita akan tetapi anak kita tidak bisa menjalankan kewajiban untuk dirinya sendiri (fardhu ain). Kita tidak ingin anak kita menolong orang di sekitarnya akan tetepi dirinya sendiri tidak selamat. Kita tidak ingin anak kita mendapatkan gelar sarjana dan kepakaran dalam disiplin ilmu tertentu akan tetapi tanpa kita sadari anak kita juga bergelar pezina dan pemabuk (Na’udhubillahi Mindhalik).
Sebelum semuanya berlalu, saat inilah waktunya kita untuk berfikir dan berusaha menjadikan anak-anak kita anak yang di cintai Allah SWT.  Anak adalah nikmat sekaligus amanat, jangan sampai kita salah mengarahkan anak kita  hingga akhirnya di akhirat nanti nikmat ini berubah menjadi bencana sebab kita masuk neraka. Jangan menyogok di saat memilihkan sekolah anak kita hanya karena menuruti keinginan hawa nafsu kesombongan tergiur lebel sekolah favorit. Karena hal itu adalah bibit ketidak jujuran dan kejahatan  yang kita tanamkan di hati anak kita . Itulah yang  menjadikan sebab ilmu yang diperoleh anak kita tidak bermanfaat. Kemudian, lihat akidah yang dianut oleh lingkungan sekolah yang akan kita pilihkan untuk anak kita. Hingga kitapun tahu di samping kuliah, kepada siapa kira-kira anak kita akan menimba ilmu agama. Sebab kesesatan saat ini beragam dan dikemas dengan berbagai kemasan dengan lebel ilmiah yang amat membahayakan anak kita. Kita juga harus melihat calon tempat tinggal anak kita, jangan sampai tanpa kita cermati ternyata anak kita masuk dalam pergaulan kotor dengan zina dan minuman keras serta lingkungan orang yang tidak takut kepada Allah.
Bagi yang ingin masuk pesantren atau kuliah keagamaan, para orang tuapun di tuntut cermat dan jeli dalam memilihkan pesantren dan kampus untuk anak-anaknya. Bahkan disaat seperti ini orang tua dituntut lebih cermat lagi dari yang anaknya mengambil  pendidikan umum. Sebab pesantren dan kampus Islam saat ini juga banyak yang tercemari polusi akidah sesat dan akhlak yang tidak terpuji.  Karena sudah pakai lebel agama  maka jika salah lebih susah untuk  di sadarkan dari yang lainya. Agar tidak salah pilih, bangun komunikasi dengan orang  alim dan soleh yang secara lahir terbukti takut kepada Allah, menjaga syariat Rasulillah, untuk bisa mengarahkan kita dalam memilihkan sekolah dan pesantren untuk anak-anak kita. Jangan lupa sertakan sholat istikhoroh.
Wallahu  a’lam bishshowab.   
http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bT*xJmx*PTEyODQzODI5NDMwMDAmcHQ9MTI4NDM4MzAxMjIwMyZwPTIzODk4MSZkPUlzbGFtaWMlMjBDYWxlbmRhciUzYSUyMG9y/bmFtZW5*MDEmZz*xJm89NGMyMGE3ODdiMGUyNDFlYzg1ODFhOTgzNDNkZmNjNmMmb2Y9MA==.gif

Agar Lulus Dalam Ujian


Agar Lulus Dalam Ujian Bottom of Form       
Disebutkan bahwa dunia ini adalah tempat ujian dan berjuang bercocok tanam. Dan hasilnya akan kita lihat nanti di kehidupan setelah kehidupan dunia ini. Selagi dunia ini adalah tempat untuk berjuang dan ujian maka semestinyalah kita sadari setiap saat bahwa dalam ujian itu ada kegagalan dan dalam pejuangan itu ada kekalahan.
Ujian untuk semuanya, dalam bentuk yang berbeda-beda. Dan di antara ujian itu adalah ujian yang menjadikan orang benar-benar tidak sadar kalau dia di dalam ujian.
Kita tahu bahwa kekurangan materi dan sakit jasmani adalah ujian. Di saat itu begitu mudahnya orang yang mendapatkan ujian tersebut untuk menyadari jika itu ujian. Sehingga mudah terdengar pengaduan kepada Allah dari lidah orang-orang yang sakit parah dan kekurangan. Akan tetapi jika ujian itu adalah dalam bentuk karunia. Sering orang lalai dalam kenikmatan. Tidak sadar seseorang bahwa kekayaan, pangkat dan kesehatan adalah juga jenis ujian.
Bagi yang mendapatkan gaji 500 ribu dalam sebulan sangat mudah jika berinfak 5 % dari semua penghasialan. Akan tetapi yang mendapatkan penghasilan 20 juta dalam sebulan amat sulit untuk berinfaq 5% dari penghasilanya. Sebab dalam hitungan angka yang berpenghasilan 500 ribu hanya berinfak 25 ribu sementara yang berpenghasilan 20 juta berinfaq 1 juta.
Didalam ujian ini sesorang sering tertipu sehingga yang berpenghasilan 20 juta dengan kekikiranya melihat yang akan dikeluarkanya yaitu 1 juta dan lupa yang di perolehnya yaitu  20 juta. Sehingga disaat itu amat sulit baginya untuk berinfak 5 %.dan akan melihat yang mengeluarkan 25 ribu adalah kecil. Padahal jika disadari disaat ini antara yang 25 ribu dengan yang 1 juta adalah sama yaitu 5% dari penghasilan.
Artinya ternyata beratnya seseorang berbuat baik itu justru di saat di uji oleh Allah dengan kenikmatan. Itulah yang di isyaratkan oleh Allah bahwa akan melalailakan manusia berbagai macam karunia didunia. Baik itu harta, pangkat atau kesehatan.
Bertafakkur adalah cara untuk menjawab ujian di dunia ini. Seorang tukang becak yang tidak memiliki sesuatu dirumahnya kecuali becak yang di ayunnya setiap hari. Akan tetapi ia masih bisa menyempatkan diri menyisihkan infaq seribu rupiah setiap hari dari   penghasilan kotornya 20 ribu. Lebih dari itu ia masih sempat menghadiri pengajian untuk menambah ilmu  mendekatkan diri kepada Allah.
Sementara ada yang diberi oleh Allah segala kemudahan. Penghasilan tinggi, kendaraan bagus akan tetapi ia telah dijadikan oleh Allah sebagai orang yang tidak lulus ujian. Jangankan berinfaq 5% seperti tukang becak tersebut, 1%pun kadang dirasa teramat berat. Satu jam dalam seminggu untuk menghadiri pengajian juga teramat sulit karena berbagai alasan yang semuanya hanya menghantarkan kepada ketidak lulusan didalam ujian didunia ini.
Yang lulus ujian akan mendapatkan penghargaan dan kemulyaan dari Allah kelak setelah kehidupan ini dan yang gagal akan mendapatkan hukuman dan penghinaan di akhirat nanti.
Wallahu a'lam bishshowab.