Tulisan Berjalan

اللهم صل على سيدنا محمد

Selasa, 06 Desember 2011

Arti Sebuah Kerinduan



Yang terucap dengan lidah kita, tentang Allah SWT, ridho Allah SWT, surga, neraka, iman kepada Allah SWT,  Rasulullah SAW dan segala yang hal di seputar  Islam. Sudahkan kalimat-kalimat tersebut disaat terucap di bibir, sekaligus dirasa oleh hati nurani kita.  Berapakali kita menghadiri diskusi tentang Islam, seminar tentang syariah, perencanaan dalam da'wah dan lain sebagainya. Sebarapa besar makna kedekatan kita kepada Allah SWT kita rasakan dari segala gebyar aktivitas tersebut. Teringat sabda nabi SAW, " Ada orang membaca al-Qur'an, akan tetapi  bacaannya tidak bisa melewati tenggorokannya." Artinya ada orang berbicara tentang perjuangan untuk Islam, syariat Islam, Allah SWT dan lain  sebagainya. Akan tetapi pembicaraan tersebut hanya bergema ditenggorokannya saja dan tidak bisa terus meresap kehati.
Ada orang yang sibuk diskusi tentang Islam dan berbicara tentang pemikiran Islam dan Islam akan tetapi diskusi dan pembicaraan tersebut hanya berputar-putar diseputar otak kepalanya dan tidak bisa di hayati oleh hatinya. Ada orang yang lantang suaranya mengajak orang lain kepada Allah SWT dengan metode penyampaian yang amat menarik, akan tetapi ajakan tersebut hanya untuk orang lain sementara hatinya sendiri tidak merasa terpanggil untuk menyambut ajakan tersebut. Itulah orang-orang yang didustakan oleh Allah SWT kelak di Akherat. Di dunia mempunyai gelaran kebesaran dalam urusan agama, akan tetapi gelar-gelar tersebut tidak mereka ketemukan di akhirat.
Yang kita lakukan disaat ini dan disaat-saat yang telah lalu dari diskusi tentang Islam dan da'wah.

Yang sering kita suarakan dan kita perdengarkan kepada orang lain tentang iman, surga, neraka dan lain sebagainya. Sudahkan semua itu menjadikan kita semakin takut kepada Allah SWT, semakin rindu kepada Allah SWT, semakin mengagungkan Allah SWT, Rasulullah SAW dan Islam? Pernahkah disaat kita mendiskusikan syari'at Islam, tiba-tiba kita mendengar suara adzan, lalu kita bergegas menyambut seruan muadzin untuk khusu' shalat berjamaah? Sudahkah kita yang disiang hari sibuk berbicara tentang ridha Allah SWT, surga dan kerinduaan kepada Allah SWT, lalu ditengah malam kita mengkhususkan waktu untuk memadu kasih dengan Allah SWT? Jika ini semua belum pernah kita lakukan, tanyakan kepada hati kita sendiri! Apa makna perjuangan kita tentang Islam, Allah SWT dan Rasulullah SAW  kalau bukan untuk menumbuh suburkan kerinduan kita kepada Allah SWT? Apa arti sebuah pemikiran tentang Islam, jika bukan untuk menjadikan kita rindu keselamatan di akhirat? Apa arti kalimat yang diucapkan oleh lidah kita tentang kecintaan kepada Allah SWT dan Islam, jika tidak kita sambung dengan merintih khusu' dalam ibadah kita kepada Allah SWT di sepinya malam?
Ya Allah, pencipta cinta dan kerinduan, jadikanlah kecintaan dan kerinduan kami hanya kepada-Mu dan karenamu!Ya Allah jadikanlah kami adalah orang-orang yang gemar menyampaikan kebenaran sekaligus mudah untuk mendengarnya! Ya Allah Jadikanlah kami orang-orang yang menyeru kepada kerinduan kepada-Mu dengan hati dan lidah kami!Ya Allah jadikanlah kami sebab rindunya hamba- hamba-Mu kepada-Mu! Wallahu a'lam bishshowab

Arti Sebuah Harapan



Alangkah banyaknya pekerjakan yang telah kita kerjakan dari pagi hingga petang, dan kadang berlanjut hingga tengah malam, bahkan ada yang bersambung hingga pagi berikutnya. Akan tetapi, adakah itu semua telah dibarengi dengan sesuatu yang amat penting yang akan menjadikan semua aktivitas kita bermakna? Ia adalah niat, maksud dan tujuan. Ia adalah ruh dari semua amal perbuatan kita. Disitulah letak pandang dan penilaian Allah SWT.
Kemuliaan seseorang tergantung pada apa yang di kandung hatinya. Penarik becak, penjual bakso, seorang ustadz, pejabat dan  semuanya, sama-sama jelek di hadapan Allah SWT, jika yang terkandung di dalam hatinya adalah rencana busuk, niat yang jelek dan tujuan yang tidak baik. Begitu juga sebaliknya  mereka sama-sama mulia di hadapan Allah SWT, jika yang terkandung di dalam hatinya maksud yang mulia. Rasulullah SAW pernah bersabda, bahwa karena niat yang terkandung di hati ada pekerjaan terlihat dalam bentuk dunia akan tetapi dinilai oleh Allah SWT sebagai amal akhirat, ada amal yang terlihat sebagai amal akhirat akan tetapi, dinilai Allah SWT sebagai amal dunia yang buahnya tidak bisa di petik di akhirat.
Seseorang yang sedang mengerjakan shalat, berdakwah dan berinfaq mendapatkan nilai maksiat jika semua itu dilakukan tidak disertai niat baik yang tulus dalam mengabdi kepada Allah SWT. Akan tetapi bisa jadi bagi mereka yang  hanya berurusan dengan pasar, sawah dan perusahaan akan mendapatkn nilai jihad dan kemuliaan karena ketulusan hatinya dalam merindu ridho Allah SWT di penghujung harapannya.
Marilah kita insyafi makna ini agar aktivitas kita ada nilainya dihadapan Allah  SWT. Dan Sebelum kita pergi melaksanakan aktivitas, marilah menghadap kepada Allah SWT dengan air wudhu lalu sholat hajat dua rokaat, kemudia memohon kepada Allah SWT agar mempermudah urusan kita, lalu kita tutup dengan merenungi apa yang ada di hati kita. Sudahkah kita berniat yang baik dan rindu ridho Allah SWT dalam aktivitas ini? Kemudian, senantiasa sertakan makna ini sepanjang kita beraktivitas. Jika kita benar-benar serius dan tulus dalam merenung ini sungguh sepanjang kita beraktivitas akan terjauh dari pelanggaran kepada Allah SWT. Sebab yang menuju Allah SWT akan senantiasa mengambil cara yang di ridhoi Allah SWT agar sampai kepada tujuan. Dan tujuan sebaik apaun jika cara yang kita ambil untuk sampai ke tujuan tidak baik, itu pertanda bahwa niat dan tujuan kita bukanlah yang baik.  Dan bagaimanapun juga  kita tidak akan sampai kepada tujuan yaitu ridho Allah SWT.
Wallahu a'lam bishshowab.
http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bT*xJmx*PTEyODQzODI5NDMwMDAmcHQ9MTI4NDM4MzAxMjIwMyZwPTIzODk4MSZkPUlzbGFtaWMlMjBDYWxlbmRhciUzYSUyMG9y/bmFtZW5*MDEmZz*xJm89NGMyMGE3ODdiMGUyNDFlYzg1ODFhOTgzNDNkZmNjNmMmb2Y9MA==.gif

Agar Orang Tua Tidak Tertipu


AGAR ORANG TUA TIDAK TERTIPU
Saat ini anak-anak kita yang di kelas 6 SD, 3 SMP dan SMA di hadapkan pada harapan baru jenjang sekolah yang lebih tinggi. Disini peran orang tua harus jelas dan tegas dalam memilihkan sekolah untuk mereka. Yang harus di mengerti adalah anak kita tidak mungkin hidup sendiri akan tetapi anak kita akan bertemu dengan teman baru dan lingkungan yang baru. Semua itu harus jadi perhitungan orang tua dalam memilihkan sekolah untuk anak-anaknya. Dan saat ini pun  anak kita juga punya  pergaulan yang sedikit atau banyak telah membentuk watak dan mempengaruhi harapan-harapanya. Maka tidak benar jika orang tua dalam hal ini menyerahkan sepenuhnya kepada pilihan anak. Akan tetapi jauh-jauh hari orang tua harus sudah memikirkan dan merencanakan dimana anaknya hendak sekolah di samping memperhatikan kemauan dan bakat sang anak. Dalam Kriteria orang tua yang terpenting adalah keselamatan akhlak dan agama anak-anaknya kemudian tercapai cita-cita mulianya.
Islam sangat mendukung orang-orang aktif, ktreatif dan inovatif sebagai penguat Islam. Maka kita butuh dokter, pakar ekonomi, pakar politik dan ahli pertanian yang semua itu tidak lain adalah demi tertunaikanya kewajiban fardhu kifayah kita. Akan tetapi semua itu tidak ada nilainya di hadapan Allah jika bukan dari orang-orang yang kenal Allah. Karena keahlian bagi orang yang tidak kenal Allah adalah pembuka celah baru untuk bermaksiat. Bahkan ada kemaksiatan besar yang sulit di lakukan kecuali oleh orang-orang yang punya keahlian, atau ada kemaksiatan tidak di rasa sebagai kemaksiatan karena kebodohan. Jika kita ingi anak kita menjadi dokter harus kita rencanakan bagaimana agar menjadi dokter yang berakhlaq mulia, rajin solat yang bisa menitikkan air mata di malam hari karena takut kepada Allah. Begitu juga kepakaran yang lainya. Kita tidak ingin ilmu fardhu kifayah di peroleh  oleh anak kita akan tetapi anak kita tidak bisa menjalankan kewajiban untuk dirinya sendiri (fardhu ain). Kita tidak ingin anak kita menolong orang di sekitarnya akan tetepi dirinya sendiri tidak selamat. Kita tidak ingin anak kita mendapatkan gelar sarjana dan kepakaran dalam disiplin ilmu tertentu akan tetapi tanpa kita sadari anak kita juga bergelar pezina dan pemabuk (Na’udhubillahi Mindhalik).
Sebelum semuanya berlalu, saat inilah waktunya kita untuk berfikir dan berusaha menjadikan anak-anak kita anak yang di cintai Allah SWT.  Anak adalah nikmat sekaligus amanat, jangan sampai kita salah mengarahkan anak kita  hingga akhirnya di akhirat nanti nikmat ini berubah menjadi bencana sebab kita masuk neraka. Jangan menyogok di saat memilihkan sekolah anak kita hanya karena menuruti keinginan hawa nafsu kesombongan tergiur lebel sekolah favorit. Karena hal itu adalah bibit ketidak jujuran dan kejahatan  yang kita tanamkan di hati anak kita . Itulah yang  menjadikan sebab ilmu yang diperoleh anak kita tidak bermanfaat. Kemudian, lihat akidah yang dianut oleh lingkungan sekolah yang akan kita pilihkan untuk anak kita. Hingga kitapun tahu di samping kuliah, kepada siapa kira-kira anak kita akan menimba ilmu agama. Sebab kesesatan saat ini beragam dan dikemas dengan berbagai kemasan dengan lebel ilmiah yang amat membahayakan anak kita. Kita juga harus melihat calon tempat tinggal anak kita, jangan sampai tanpa kita cermati ternyata anak kita masuk dalam pergaulan kotor dengan zina dan minuman keras serta lingkungan orang yang tidak takut kepada Allah.
Bagi yang ingin masuk pesantren atau kuliah keagamaan, para orang tuapun di tuntut cermat dan jeli dalam memilihkan pesantren dan kampus untuk anak-anaknya. Bahkan disaat seperti ini orang tua dituntut lebih cermat lagi dari yang anaknya mengambil  pendidikan umum. Sebab pesantren dan kampus Islam saat ini juga banyak yang tercemari polusi akidah sesat dan akhlak yang tidak terpuji.  Karena sudah pakai lebel agama  maka jika salah lebih susah untuk  di sadarkan dari yang lainya. Agar tidak salah pilih, bangun komunikasi dengan orang  alim dan soleh yang secara lahir terbukti takut kepada Allah, menjaga syariat Rasulillah, untuk bisa mengarahkan kita dalam memilihkan sekolah dan pesantren untuk anak-anak kita. Jangan lupa sertakan sholat istikhoroh.
Wallahu  a’lam bishshowab.   
http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bT*xJmx*PTEyODQzODI5NDMwMDAmcHQ9MTI4NDM4MzAxMjIwMyZwPTIzODk4MSZkPUlzbGFtaWMlMjBDYWxlbmRhciUzYSUyMG9y/bmFtZW5*MDEmZz*xJm89NGMyMGE3ODdiMGUyNDFlYzg1ODFhOTgzNDNkZmNjNmMmb2Y9MA==.gif

Agar Lulus Dalam Ujian


Agar Lulus Dalam Ujian Bottom of Form       
Disebutkan bahwa dunia ini adalah tempat ujian dan berjuang bercocok tanam. Dan hasilnya akan kita lihat nanti di kehidupan setelah kehidupan dunia ini. Selagi dunia ini adalah tempat untuk berjuang dan ujian maka semestinyalah kita sadari setiap saat bahwa dalam ujian itu ada kegagalan dan dalam pejuangan itu ada kekalahan.
Ujian untuk semuanya, dalam bentuk yang berbeda-beda. Dan di antara ujian itu adalah ujian yang menjadikan orang benar-benar tidak sadar kalau dia di dalam ujian.
Kita tahu bahwa kekurangan materi dan sakit jasmani adalah ujian. Di saat itu begitu mudahnya orang yang mendapatkan ujian tersebut untuk menyadari jika itu ujian. Sehingga mudah terdengar pengaduan kepada Allah dari lidah orang-orang yang sakit parah dan kekurangan. Akan tetapi jika ujian itu adalah dalam bentuk karunia. Sering orang lalai dalam kenikmatan. Tidak sadar seseorang bahwa kekayaan, pangkat dan kesehatan adalah juga jenis ujian.
Bagi yang mendapatkan gaji 500 ribu dalam sebulan sangat mudah jika berinfak 5 % dari semua penghasialan. Akan tetapi yang mendapatkan penghasilan 20 juta dalam sebulan amat sulit untuk berinfaq 5% dari penghasilanya. Sebab dalam hitungan angka yang berpenghasilan 500 ribu hanya berinfak 25 ribu sementara yang berpenghasilan 20 juta berinfaq 1 juta.
Didalam ujian ini sesorang sering tertipu sehingga yang berpenghasilan 20 juta dengan kekikiranya melihat yang akan dikeluarkanya yaitu 1 juta dan lupa yang di perolehnya yaitu  20 juta. Sehingga disaat itu amat sulit baginya untuk berinfak 5 %.dan akan melihat yang mengeluarkan 25 ribu adalah kecil. Padahal jika disadari disaat ini antara yang 25 ribu dengan yang 1 juta adalah sama yaitu 5% dari penghasilan.
Artinya ternyata beratnya seseorang berbuat baik itu justru di saat di uji oleh Allah dengan kenikmatan. Itulah yang di isyaratkan oleh Allah bahwa akan melalailakan manusia berbagai macam karunia didunia. Baik itu harta, pangkat atau kesehatan.
Bertafakkur adalah cara untuk menjawab ujian di dunia ini. Seorang tukang becak yang tidak memiliki sesuatu dirumahnya kecuali becak yang di ayunnya setiap hari. Akan tetapi ia masih bisa menyempatkan diri menyisihkan infaq seribu rupiah setiap hari dari   penghasilan kotornya 20 ribu. Lebih dari itu ia masih sempat menghadiri pengajian untuk menambah ilmu  mendekatkan diri kepada Allah.
Sementara ada yang diberi oleh Allah segala kemudahan. Penghasilan tinggi, kendaraan bagus akan tetapi ia telah dijadikan oleh Allah sebagai orang yang tidak lulus ujian. Jangankan berinfaq 5% seperti tukang becak tersebut, 1%pun kadang dirasa teramat berat. Satu jam dalam seminggu untuk menghadiri pengajian juga teramat sulit karena berbagai alasan yang semuanya hanya menghantarkan kepada ketidak lulusan didalam ujian didunia ini.
Yang lulus ujian akan mendapatkan penghargaan dan kemulyaan dari Allah kelak setelah kehidupan ini dan yang gagal akan mendapatkan hukuman dan penghinaan di akhirat nanti.
Wallahu a'lam bishshowab.


Adakah pluralisme dalam Islam?
 Sebelum saya berbicara tentang pluralisme terlebih dahulu saya akan menyinggung istilah “pluralisme” dengan harapan agar tidak terjadi kesalah-pahaman di antara semua di hadapan istilah tersebut. Pluralisme sering di artikan oleh penyerunya sebagai sikap mengakui dan menerima kenyataan bahwa masyarakat itu bersifat mejemuk disertai dengan sikap tulus menerima kenyataan kemajemukan sebagai sesuatu yang bernilai positif, dan merupakan rahmat Allah kepada bangsa menusia . Pluralisme tidak sekedar menyadari akan kemajemukan. Akan tetapi lebih dari itu harus ada keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajemukan tersebut . Seorang pluralis adalah orang yang menyadari kemajemukan sebagai sesuatu yang positif sekaligus dapat berinteraksi aktif dalam lingkungan kemajemukan . Jika demikian adanya maka pluralisme adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Islam sebagai agama rahmatan lil'alamin . Bahkan jika benar begitu makna pluralisme maka ia adalah sesuatu yang sangat asasi dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Sebenarnya ummat Islam tidak butuh dengan istilah pluralisme sebab makna yang terkandung didalam Islam amat melampaui hakekat pluralisme Kalau bukan karena maraknya istilah pluralisme dan banyaknya kejanggalan prilaku penyeru pluralisme niscaya tidak akan ada istilah pluralisme dalam tulisan ini. Dan semestinya umat islam sudah tidak boleh menggunakannya karena istilah pluralisme telah banyak diberi makna beda lalu digunakan pendusta-pendusta perdamaian dan agama untuk menutupi kebusukan maksud yang terkandung di kalbunya. Berinteraksi aktif-positif bukan berarti menyamakan agama dalam kebenaran (menganggap semua agama benar). Anggapan semua agama itu benar adalah anggapan yang salah, dan itu ungkapan yan tidak bermakna. Sebab agama tertuang dalam sebuah keyakinan. Bagaimana dua yang bertentangan dalam masalah keyakinan kita katakan benar semua. Pasti salah satunya salah atau dua-duanya harus salah dan yang benar adalah di luar itu. Dalam beragama harus ada keyakinan, yang tidak yakin dengan kebenaran agama bukanlah orang yang beragama. Dalam beragama ada yang namanya perubahan keyakinan sesuai dengan kuat-lemah dan benar-tidaknya sebuah hujjah (argumentasi). Tetapi seseorang yang berubah keyakinanya tetap tidak keluar dari yang namanya keyakinan. Meyakini kebenaran agama yang dipeluknya lalu menganggap agama yang lainya salah, tidak ada hubunganya dengan pluralisme dan juga tidak bertentangan dengan pluralisme. Sebab pluralisme dalam arti berinteraksi aktif–positif dalam kemajemukan, baik di saat adanya perbedaan keyakinan atau tidak. Berbeda keyakinan bukan halangan untuk mewujudkan semangat pluralisme, begitu juga di saat tidak adanya perbedaan bukan berarti pluralisme telah terwujud. Orang yang menganggap semua agama benar adalah si dungu yang berkhianat terhadap keyakinan dan agamanya. Itu sama artinya dengan orang yang tidak beragama. Anggapan semua kitab-kitab (yang sering disebut kitab suci) yang ada sekarang ini masih asli semua adalah bentuk yang lain lagi dari kedunguan penghianat agama. Yang tidak meyakini kebenaran kitab suci agama yang dipeluknya akan menghasilkan pendustaan kepada agama kitab suci itu sendiri. Sebab seseorang yang meyakini kebenaran kitab suci lalu menemukan kitab suci agama orang lain terdapat beberapa hal yang sangat bertentangan dengan kitab sucinya, apakah mungkin dengan akal sehatnya bisa meyakini kebenaran kedua kitab suci tersebut ?. (Perbedaan yang saya maksud adalah perbedaan dalam prinsip-prinsip keimanan seperti masalah ketuhanan, kenabian, hari akhir dll) Pluralisme baginya tidak lebih dari sekedar basa-basi sosial tanpa ada motivasi yang pasti yang mendorong seseorang untuk saling mengerti dalam kemajemukan. Yang diharap di dalam melaksanakan tugas kemanusiaan yang agung ini adalah imbalan dari manusia, atau agar diperlakukan sebagaimana yang ia lakukan untuk orang lain. Hal itu amat jauh nilainya jika dibandingkan dengan pluralisme orang beragama. Orang beragama berkeyakinan bahwa imbalan yang sejati adalah imbalan dari Tuhan. Imbalan dari manusia tidak masuk dalam perhitungannya. Artinya, motivasi perbuatannya adalah perkenan Tuhan. Seorang yang beragama dituntut untuk berbuat baik kepada sesama, baik di saat dia diperlakukan orang lain dengan baik atau tidak. Hal ini teramat jelas terurai dalam ajaran Islam yang disebut dengan istilah ikhlas, berbuat hanya karena Allah. Bahkan amal perbuatan tidak akan di terima Allah jika tidak dilakukan dengan ikhlas. Pluralisme; Milik Kita yang Hilang Diantara masalah yang akhir-akhir ini amat kerap disebut dalam diskusi atau berbagai studi sosial dan keagamaan adalah pluralisme. Namun ia lebih seperti salah satu anggota keluarga yang tidak pernah di sebut kecuali setelah ia tiada. Dalam masyarakat pluralis, penyebutan istilah pluralisme volumenya akan sangat kecil, yaitu di saat pluralisme tidak hanya sekedar dalam teori dan jargon. Tetapi benar-benar telah diterjemahkan dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat Madinah di zaman Nabi SAW adalah sample paripurna masyarakat madani yang pluralis. Harmoni kehidupan benar-benar tercipta, mulai dari perbedaan tradisi antar suku yang beragama sama hingga yang berbeda agama. Kesiagaan untuk berinteraksi aktif-positif benar-benar terjamin dan tercipta saat itu. Padahal sebelumnya masyarakat ini amat sulit dipersatukan dalam satu kesepakatan dalam perbedaan, lebih lagi jika itu perbedaan keyakinan. Hal yang demikian itu (yakni keharmonisan) terbentuk karena adanya komando yang dipatuhi yang menyeru kepada sikap menerima perbedaan pendapat sekaligus cara menjalani hidup dengan perbedaan dengan cara yang sebaik-baiknya. Komando yang saya maksud adalah ajaran agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Nabi yang diutus Allah untuk menciptakan kasih sayang yang bukan hanya diantara pengikutNya, tetapi kasih sayang diantara bangsa manusia semuanya (rahmatan lil’alamiin). Dalam masyarakat seperti ini seorang Yahudi atau Kristiani tidak akan pernah merasa risih berinteraksi dengan kaum muslimin. Bahkan di saat ada dari kaum muslimin yang mengabaikan haknya dengan lega dan pasti mengangkat permasalahanya keatasan. Dan atasan yang adilpun akan menjatuhkan vonis sesuai dengan tata aturan perlindungan hak asasi manusia yang sangat dijunjung tinggi oleh Islam. Masyarakat yang telah menyadari pentingnya pluralisme tidak lagi menggembar-gemborkannya dengan lafal, tapi mereka akan lebih sibuk untuk menjadikan kebersamaan tersebut sebagai asas yang mendasari sepak terjangnya dalam mengarungi kehidupan ini. Dan sebaliknya, jika asas ini telah keropos atau bahkan punah, jangankan untuk saling berintraksi aktif-pasitif dengan orang yang berbeda agama, sesama agama atau bahkan dalam rumah sendiripun (keluarga) keharmonisan akan sulit diwujudkan. Problem yang amat kompleks di masyarakat kita yang bertahun-tahun tidak kunjung usai. Pertikaian antar agama dan antar suku yang sering muncul adalah karena tidak adanya kesadaran akan pluralisme. Dan kita semua tidak membicarakan pluralisme, kecuali karena pluralisme di Indonesia memang telah hilang . Pluralisme Yang Teraniaya Di saat tidak adanya kesadaran akan pentingnya pluralisme (dalam arti pluralisme tidak lagi dijadikan pijakan untuk hidup bermasyarakat) maka pluralisme disebut dan dihadirkan untuk memberi solusi problem yang merebak. Menjadikan pluralisme sebagai solusi adalah kedzaliman pertama bangsa manusia terhadapnya, menyusul berikutnya kedzaliman dalam cara menghadirkan pluralisme dalam sebuah komunitas. Kita tidak ingin pluralisme dijadikan senjata sekelompok orang untuk memonopoli situasi demi sebuah ideologi atau kepentingan kelompok. Kita tidak ingin pluralisme di jadikan alat penjajahan ideologi. Sebab yang semestinya, pluralisme adalah pelindung ideologi.Adanya indikasi yang demikian adalah yang telah menjadikan benih pluralisme terbunuh sebelum dilahirkan. Bahkan untuk sebagian orang, kelahirannyapun tidak diharapkan. Hal lain yang perlu diamati adalah semangat pluralisme hendaknya tidak hanya diserukan diantara umat yang berbeda agama. Tetapi diantara sesama agama, atau lebih khusus lagi keluarga (yakni antara warga dalam keluarga), kesadaran pentingnya pluralisme juga harus dihidupkan. Suatu kedunguan yang nyata menyeru pluralisme antar agama sementara di dalam rumahnya sendiri semangat ini telah mati. Ini adalah titik penting yang sering dilupakan. Dalam Hadits Nabi SAW disebutkan (yang artinya): “Sebaik-baik kalian adalah yang bisa berbuat baik kepada keluarganya”. Betapa banyak orang yang bisa beramah-tamah dengan orang lain tetapi bersama keluarganya yang tampak hanya suramnya. Mulai dari omongan yang kasar, juga perbuatan yang merugikan bahkan ada yang begitu mudah mendaratkan telapak tanganya di pipi sang istri.Begitu juga dalam sebuah agama (Islam misalnya), ketegangan sering hadir di kalangan mereka sendiri. Kadangkala disebabkan oleh orang-orang yang amat lantang menyeru pluralisme. Yang tidak mampu menjaga kebersamaan dalam agamanya, bagaimana mungkin akan menyeru kebersamaan dengan agama lain? Orang bijak adalah orang yang pandai menghindari atau memperkecil perpedaan pendapat, dan sebisa mungkin menjelaskan agar perbedaan pendapat jangan menjadi sebab permusuhan. Bebasnya media hendaknya kita manfaatkan untuk menciptakan ketentraman dalam masyarakat bukan untuk membingungkan masyarakat. Gejala semacam ini jika tidak segera ditanggulangi atau kita beri solusi, akan membesar menjadi problem masyarakat luas. Puncaknya adalah ancaman bagi terwujudnya semangat pluralisme. Semangat pluralisme yang menggebu-nggebu dalam upaya menciptakan keharmonisan antar agama jika tidak dibarengi dengan semangat pluralisme dalam masyarkat seagama, akan menimbulkan kesan bahwa pluralisme antar agama hanya akan merusak kerukunan masyarakat seagama. Ini adalah lain lagi dari kedzaliman kita kepada pluralisme. Islam dan Pluralisme Sebagai seorang yang beragama Islam sayapun akan mencoba menampilkan wajah agama yang saya peluk sebagai gambaran umum sekaligus asasi tentang Islam dan pluralisme. Jika benar penerjemahan kata ”tasamuh” adalah toleransi, maka pluralisme di dalam Islam bukanlah maknanya membudayakan toleransi. Didalam islam tidak ada toleransi sebab toleransi baru dihadirkan di saat satu dengan yang lainnya telah sama–sama tidak bisa menjalankan kewajiban dan memberikan hak orang lain. Suatu hal yang amat berbeda dengan “pluralisme” dalam Islam yang merupakan ketetapan hukum yang harus senantiasa dihadirkan dalam segala kondisi. Jika kita berbuat baik kepada tetangga atau orang yang berbeda agama dengan kita atau perkenan Islam kepada non-muslim untuk tinggal di dalam masyarakat Islam (negara Islam) berikut kebebasanya dalam beraktifitas dengan masyarakat Islam atau non-Islam juga kebebasan dalam beribadah bukanlah sebuah toleransi, tetapi hal merupakan ketetapan hukum yang telah ditetapkan oleh Islam. Suatu kesalahan jika ketetapan hukum dianggap sebagai toleransi. Sebab toleransi tidak lebih dari menjatuhkan hak atau merelakan haknya untuk tidak dipenuhi dan itupun ada batasan-batasan yang harus dipatuhi. Bukan pujian terhadap Islam jika hukum yang ditetapkan Islam untuk non-muslim itu disebut sebagai toleransi. Karena anggapan ini seolah-olah mengingkari jika yang demikian itu adalah ketetapan hukum. Untuk lebih jelasnya kita bisa merujuk pada Nabi Islam, sosok pluralis yang paripurna. Para pengikutnyapun seharusnya meniti jejak beliau. Mewujudkan pluralisme dalam Islam tidak diperlukan berbagai macam toleransi, sebab pluralisme sendiri telah ditetapkan Islam dalam hukum-hukum yang jelas. Hanya dengan kembali kepada agamanya seorang muslim akan menjadi seorang yang pluralis. Di saat Nabi Muhammad SAW memasuki Madinah, beliau menjamin masyarakat Yahudi dengan kebebasan beraktifitas dan menikmati haknya serta memberikan perlindungan keamanan dari penghianatan dan gangguan dari luar (Ibnu Hisyam 106/2). Padahal jika seandainya Nabi SAW menghardik atau memusnahkan mereka, beliau tidak akan dicela. Sebab Nabi SAW pernah dikhianati oleh Yahudi Bani Quraidhoh pasca perang Badar Kubra begitu juga Yahudi Bani Nadzir pasca perang Uhud. Penghianatan yang lain datang dari Yahudi Bani Quraidhah pasca perang Khondak. Pun demikian Nabi SAW yang diutus untuk membawa dan memberikan kasih sayang itu, senantiasa lemah lembut terhadap mereka dengan harapan keharmonisan bisa tercipta, biarpun orang-orang Yahudi tidak menghendakinya. Begitu pula pada masa Kholifah Abu Bakar r.a, penerus dakwah Nabi SAW. Amat banyak cerita yang menunjukan bahwa beliau itu amat pluralis sebagaimana pendahulunya. Diantaranya adalah sepuluh wasiat beliau yang diberikan kepada Usamah bin Zaid yang berisi larangan menghianati lawan (dalam perang); mencincang; membunuh anak kecil, orang tua, wanita; merusak tanaman; membunuh binatang kecuali untuk dimakan; menghancurkan tempat peribadatan, dst. Wasiat semacam ini disampaikan di saat ada perlawanan dari orang non Islam. Dalam Islam tidak ada istilah memusnahkan orang di luar Islam tetapi yang ada adalah menyampaikan kebenaran kepada mereka dengan penuh damai. Status keberadaan non muslim dalam masyarakat Islam juga beliau kukuhkan sebagai mana pendahulunya Nabi Muhammad SAW. Kholifah Umar r.a pun demikian, seiring dengan berbondong-bondongnya orang masuk Islam, wilayah Islampun dengan sendirinya meluas. Persilangan budaya, tradisi dan agama beliau selesaikan dengan cukup kembali kepada hukum yang ditetapkan pendahulunya Nabi Muhammad SAW. Bahkan di saat terjadinya peperangan sekalipun beliau tidak lupa mengingatkan pasukannya. seperti yang disampaikan kepada Sa’ad bin Abi Waqqas agar menjauhkan pasukannya dari pemukiman non muslim. Ini dengan tujuan agar tidak memperkenankan siapapun dari kaum muslimin memasuki pemukiman mereka kecuali orang yang benar-benar bisa dipercaya, sehingga tidak berbuat aniaya terhadap hak milik mereka, sebab mereka punya kehormatan yang harus dilindungi. Yang mereka lakukan bukanlah untuk sebuah toleransi, tetapi karena itulah ketetapan hukum Islam. Dan masih banyak lagi suri-tauladan pluralisme pada masa Nabi SAW dan sahabat. Begitu juga sejarah perluasan Islam, termasuk masuknya Islam ke negara kita yang penuh kedamaian, bukan melalui peperangan atau penindasan. Adakah makna pluralisme selain dari itu semua?.Pluralisme punya satu hakikat yang sungguh diseru oleh Islam. Siapapun harus bisa membedakan antara pemeluk Islam dan Islam itu sendiri. Gagalnya pluralisme dalam masyarakat Islam di sebabkan oleh kurang dekatnya mereka kepada ajaran agamanya. Musuh-Musuh Pluralisme Jika kita mengamati sekitar kita, terdapat dua kelompok yang amat berbahaya terhadap eksistensi pluralisme. Bahkan keberadaan mereka tanpa disadari telah menghancurkan bangunan pluralisme yang semakin hari semakin rapuh. Mereka adalah : 1-Orang-orang yang eksklusif dalam pemikiran keberagamaan, terkesan sekali dalam sepak terjang mereka menganggap dunia ini hanya mereka saja yang layak menghuninya. Sementara pemeluk lain tidak lebih sebagai makhluk jahat yang tidak boleh diberi kesempatan untuk hidup di bumi ini. Eksklusivisme ini sering muncul dalam wajah-wajah ekstrim setiap agama termasuk di dalamnya agama Islam, Yahudi, Kristen, dan lain-lain. Ekstrimisme inipun hadir bukan tanpa sebab, tetapi ia adalah sesuatu yang terlahir dari salah satu dari dua hal berikut ini : a-Keberadaan agama itu sendiri yang eksklusif, sarat dengan doktrin-doktrin memusnahkan siapapun yang tidak sepaham dengan agama tersebut. b-Kebodohan sang pemeluk agama (padahal agamanya sangat inklusif). Beragam aktifitas yang diatas namakan agama yang sering dikomandokan pemikir agama yang sempit, hanya akan menciptakan masyarakat eksklusif, sempit pandangan dan acuh tak acuh dalam aktifitas dalam masyarakat yang plural. Orang seperti ini telah mengotori agamanya sendiri tanpa ia sadari. 2- Orang yang tidak teguh dalam beragama dalam arti tidak teguh dalam meyakini agamanya (kelompok ini datang khusus dari agama yang tidak menyeru pada eksklusivisme). Bahaya yang datang dari kelompok ini lebih besar dari yang sebelumnya. Sebab sebelum segala sesuatunya kelompok ini telah menghianati agama itu sendiri dan kemudian membohongi pemeluk-pemeluknya. Kelompok ini sering hadir dalam bentuk penyamaan terhadap semua agama, membenarkan semua agama. Jelasnya begini, saya adalah pemeluk agama Islam, lalu saya menyeru kepada umat Islam bahwa agama Kristen itu juga sama seperti agama Islam. Kitab suci orang Kristen juga masih asli seperti Alquran. Kemudian masyarakat yang percaya kepada saya akan menerima omongan saya mentah-mentah sembari meyakininya. Namun setelah mereka benar-benar berinteraksi dengan agama Kristen ternyata antara dua agama itu terdapat perbedaan dan pertentangan. Di saat ia mencoba mengerti tentang agama Kristen ternyata agama itu telah mengklaim kebenaran agamanya, begitu juga saat ia kembali pada agama Islam, masyarakat Islam pun demikian meyakini kebenaran agamanya. Apa yang terjadi setelah itu? Orang yang amat mendengar seruan saya tersebut berangkat dari semangat pluralismenya yang tulus akan dengan serta merta menyalahkan orang-orang yang mengklaim kebenaran agama masing-masing. Baik itu dari masyarakat yang seagama dengannya ataupun yang berbeda. Kesimpulannya, ia telah menciptakan dua musuh dalam waktu yang bersamaan. Musuh dari luar dan musuh dari dalam sendiri. Maka orang tersebut akan menjadi sumber kerusakan dalam rumah sendiri, juga di luar rumah. Sementara yang harus kita yakini sebagai umat beragama adalah : Perbedaan harus ada dalam hidup bermasyarakat. Ini merupakan kesepakatan semua orang yang berakal, termasuk di dalamnya perbedaan di dalam beragama. Pluralisme berfungsi dalam arena interaksi dengan sesama untuk menciptakan keharmonisan hidup bermasyarakat. Berangkat dari memahami perbedaan sesorang akan mudah dalam mewujudkan masyarakat yang pluralis. Perhatikan, betapa dungunya orang yang mengatakan dua berbeda itu sama; dua kitab suci yang jelas berbeda bahkan kadang bertentangan adalah sama; dua agama yang saling bertentangan adalah sama-sama benar. Akal sehat mana yang bisa mempercayai pernyataan seperti itu? Ia adalah musuh besar pluralisme yang mendakwakan dirinya sebagai pembela pluralisme. Ia adalah maling pluralisme yang menuduh orang lain sebagai maling. Inilah penyakit yang di idap oleh kaum liberalis akan tetapi mereka tidak menyadari. Bersama Menuju Pluralisme Ada banyak hal yang amat menghambat kita dalam mewujudkan semangat pluralisme di Indonesia diantaranya: A . Problem nasional yang tidak kunjung padam, serta tidak adanya jaminan keamanan bagi masyarakat dari penguasa, berikut lambatnya penguasa menangani konflik. Hal yang akan menjadikan semua serba panas, bikin sesak dada, rasa ingin berontak, saling menyalahkan yang tidak hanya mempertinggi volume ketegangan antar agama tapi juga antar suku yang kadang juga masih seagama. Solusi problem yang satu ini lebih tepat jika diserahkan kepada pemerintah dengan syarat “sungguh-sungguh”. B . Problem seagama. Dalam Islam misalnya, masih sering terjadi permusuhan antar kelompok. Berbeda pendapat adalah wajar, tetapi mengklaim kekafiran atau bid`ah terhadap kelompok tertentu tanpa prosedur yang sah dalam Islam amat mengganggu jalannya pluralisme. Belum lagi adanya isu-isu aneh tentang pemikiran (yang seolah-olah Islami) yang sering diangkat ke permukaan, yang hanya akan menambah suasana yang sudah panas ini bertambah panas. Untuk problem ini solusinya adalah mengembalikan permasalahannya kepada pakar Islam. Pakar yang benar-benar pakar, tercatat pernah mempelajari Islam dengan benar dengan bimbingan guru yang benar, punya mata rantai keilmuan dengan guru pluralis Nabi Muhammad SAW. C.Problem moral. Banyaknya kejahatan yang dilakukan oleh masyarakat kita, mulai dari pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, korupsi, dll adalah potret nyata jauhnya masyarakat kita dari tata moral agama. Pelakunyapun merata di seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari rakyat kecil, pejabat, orang awam, bahkan tokoh agama. Hal semacam ini yang menimbulkan keraguan terhadap fungsi agama sebagai cara dan jalan hidup. Padahal jelas kesalahan bukan di agama tapi pada pemeluk agama. Orang yang semacam ini amatlah sulit untuk diajak mengerti tentang pluralisme, apa lagi untuk menerapkanya. Padahal pluralisme dalah puncak moralitas. Untuk problem yang satu ini adalah Pekerjaan Rumah (PR) bagi semuanya, mulai dari penguasa, tokoh agama, lembaga-lembaga sosial dan keagamaan dan setiap individu, untuk sama-sama menyadari pentingnya bermoral dalam beragama dan bermasyarakat. Karena moral sifatnya “kesadaran penuh” saat disaksikan orang atau tidak. Maka pembinaannyapun tidak cukup dengan penegakan hukum oleh penguasa, tapi lebih dari itu, harus tercipta kesadaran dalam beragama. Artinya keyakinan akan adanya hari pembalasan, keyakinan bahwa yang lolos dari hukuman di dunia tidak akan lolos dari hukuman Tuhan di hari pembalasan. Dan kebaikan yang kita lakukan sekarang akan kita petik buahnya kelak. Dengan demikian pintu akan terbuka lebar untuk mewujudkan pluralisme atau bahkan dengan sendirinya pluralisme akan terwujud. Karena pluralisme tidak lain dari tata moral dalam bermasyarakat, baik itu sesuku, seagama, antar agama dan antar bangsa dengan menjauhkan problem sosial,agama dan moral dalam individu dan masyarakat. Dengan penuh pengharapan kepada Allah semoga pluralisme tidak hanya di layar atau di selebaran terbaca dan meja diskusi. Tetapi akan benar-benar tertanam dalam hati bangsa Indonesia lalu di terjemahkan kedalam dunia interaksi hingga negeri ini akan tentram damai penuh rahmat dan pengampunan dari Allah SWT. Wallahu a’lam.

Selasa, 22 November 2011

Agar Lulus Dalam Ujian Disebutkan bahwa dunia ini adalah tempat ujian dan berjuang bercocok tanam. Dan hasilnya akan kita lihat nanti di kehidupan setelah kehidupan dunia ini. Selagi dunia ini adalah tempat untuk berjuang dan ujian maka semestinyalah kita sadari setiap saat bahwa dalam ujian itu ada kegagalan dan dalam pejuangan itu ada kekalahan. Ujian untuk semuanya, dalam bentuk yang berbeda-beda. Dan di antara ujian itu adalah ujian yang menjadikan orang benar-benar tidak sadar kalau dia di dalam ujian. Kita tahu bahwa kekurangan materi dan sakit jasmani adalah ujian. Di saat itu begitu mudahnya orang yang mendapatkan ujian tersebut untuk menyadari jika itu ujian. Sehingga mudah terdengar pengaduan kepada Allah dari lidah orang-orang yang sakit parah dan kekurangan. Akan tetapi jika ujian itu adalah dalam bentuk karunia. Sering orang lalai dalam kenikmatan. Tidak sadar seseorang bahwa kekayaan, pangkat dan kesehatan adalah juga jenis ujian. Bagi yang mendapatkan gaji 500 ribu dalam sebulan sangat mudah jika berinfak 5 % dari semua penghasialan. Akan tetapi yang mendapatkan penghasilan 20 juta dalam sebulan amat sulit untuk berinfaq 5% dari penghasilanya. Sebab dalam hitungan angka yang berpenghasilan 500 ribu hanya berinfak 25 ribu sementara yang berpenghasilan 20 juta berinfaq 1 juta. Didalam ujian ini sesorang sering tertipu sehingga yang berpenghasilan 20 juta dengan kekikiranya melihat yang akan dikeluarkanya yaitu 1 juta dan lupa yang di perolehnya yaitu 20 juta. Sehingga disaat itu amat sulit baginya untuk berinfak 5 %.dan akan melihat yang mengeluarkan 25 ribu adalah kecil. Padahal jika disadari disaat ini antara yang 25 ribu dengan yang 1 juta adalah sama yaitu 5% dari penghasilan. Artinya ternyata beratnya seseorang berbuat baik itu justru di saat di uji oleh Allah dengan kenikmatan. Itulah yang di isyaratkan oleh Allah bahwa akan melalailakan manusia berbagai macam karunia didunia. Baik itu harta, pangkat atau kesehatan. Bertafakkur adalah cara untuk menjawab ujian di dunia ini. Seorang tukang becak yang tidak memiliki sesuatu dirumahnya kecuali becak yang di ayunnya setiap hari. Akan tetapi ia masih bisa menyempatkan diri menyisihkan infaq seribu rupiah setiap hari dari penghasilan kotornya 20 ribu. Lebih dari itu ia masih sempat menghadiri pengajian untuk menambah ilmu mendekatkan diri kepada Allah. Sementara ada yang diberi oleh Allah segala kemudahan. Penghasilan tinggi, kendaraan bagus akan tetapi ia telah dijadikan oleh Allah sebagai orang yang tidak lulus ujian. Jangankan berinfaq 5% seperti tukang becak tersebut, 1%pun kadang dirasa teramat berat. Satu jam dalam seminggu untuk menghadiri pengajian juga teramat sulit karena berbagai alasan yang semuanya hanya menghantarkan kepada ketidak lulusan didalam ujian didunia ini. Yang lulus ujian akan mendapatkan penghargaan dan kemulyaan dari Allah kelak setelah kehidupan ini dan yang gagal akan mendapatkan hukuman dan penghinaan di akhirat nanti. Wallahu a'lam bishshowab.

A. PENDAHULUAN
Hadits merupakan sumber hukum kedua setelah al-Qur’an, sudah seharusnya kita mempelajarinya, sebagaimana fungsi hadits sebagaimana fungsi hadits sebagai penjelas al-Qur’an, dalam hadits memuat gejala penjelasan tentang suatu hal yang dirasa mujmal atau sulit dipahami.
Dalam al-Qur’an telah dijelaskan berbagai macam dosa besar dan keharusan kita untuk bertaubat serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang oleh Allah. Dosa besar merupakan sesuatu dosa yang dalam al-Qur’an sudah diancam hukuman yang sangat berat dan tidak mendapat ampunan dari Allah, sebagai muslim kewajiban kita adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya sebagai wujud dari keimanan dan ketakwaan kita.

B. PEMBAHASAN
1. Dosa-Dosa Besar
a. Pengertian dosa-dosa Besar
Dosa besar adalah perbuatan-perbuatan yang oleh al-Qur’an dan as-Sunah diancam dengan siksaan yang sangat berat. Ancaman siksaan yang berat itu ialah ancaman untuk dimasukkan neraka, memperoleh laknat dari Allah.
b. Macam-macam dosa besar
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ {اجرخه البخارى في كتاب الوصايا}
Artinya : “Dari Abi Hurairah Nabi Muhammad bersabda jauhilah kamu sekalian 7 perkara yang merusak, sahabat bertanya wahai Rasulullah dan itu apa, rasul menjawab : menyekutukan Allah, sihir, membunuh orang yang telah diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, memakan riba, makan harta bendanya anak yatim, berpaling pada hari pertempuran (lari), menyangka seorang perempuan mukmin berzina.”
Berdasarkan hadits diatas ada 7 macam dosa besar yang harus kita hindari, yaitu :
1) Menyekutukan Allah, sebagaimana kita yakini Allah mempunyai sifat yang berbeda dengan makhluk-Nya, adalah suatu dosa besar jika kita menyekutukannya.
2) Sihir, merupakan perbuatan yang merugikan orang lain dan lebih percaya kepada yang lain dari pada Allah.
3) Membunuh orang karena menghilangkan hak seseorang untuk hidup kecuali jika kita membunuh dengan suatu alasan yang dibenarkan syarat
4) Memakan riba, seseorang yang memakan riba ia telah mengambil sesuatu yang bukan haknya sekaligus merugikan orang lain
5) Memakan harta benda anak yatim hal tersebut termasuk perbuatan yang dilaknat oleh Allah.
6) Berpaling pada hari pertempuran, atau lari dari pertempuran, agama telah menganjurkan pada kita untuk berjihad, menjadi seorang syuhada.
7) Menyangka seorang perempuan mukmin berzina.
Adapun dosa besar menurut hadits Anas adalah :
أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْكَبَائِرِ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَقَوْلُ الزُّورِ{اجرخه البخارى في كتاب الشهادات}
Dari Anas r.a Nabi Muhammad ditanya dari dosa-dosa besar, Nabi Muhammad menjawab menyekutukan Allah, durhaka kepada orang tua, membunuh orang dengan tidak benar dan saksi yang palsu.
Dosa-dosa besar menurut hadits diatas adalah :
1) Syirik kepada Allah
Syirik yaitu menserikatkan Allah baik mengenai dzat-Nya, sifat-Nya dengan sesuatu atau makhluk-Nya, syirik yang demikian oleh para ulama disebut syirik akbar atau syirik iqtiqady, perbuatan syirik ini mempunyai daya mengeluarkan seseorang dari golongan pemeluk agama dan mengekalkannya di neraka, karena dosanya tidak memperoleh ampunan dari Allah.
Di samping syirik akbar disebut syirik ashghar atau amaly yaitu mengerjakan sesuatu amal bukan karena Allah, tetapi karena manusia, syirik ini tidak sampai mengeluarkan orang yang bersangkutan dari golongan agama.
Pembagian syirik yang lain adalah syirik jali, yaitu syirik secara terang-terangan, contohnya menyembah pohon, patung dan sebagainya, yang kedua yaitu syirik khofi atau syirik secara samar-samar yaitu meminta pertolongan kepada selain Allah, contohnya pergi ke dukun agar dekat jodohnya.
Adapun cara untuk menghindari perbuatan syirik diantaranya selalu berpedoman kepada ajaran al-Qur’an, menjauhi orang-orang yang berbuat syirik dan memupuk iman yang ada dihati.
2) Durhaka kepada orang tua
Yang dimaksud durhaka kepada orang tua adalah bermakiat kepada kedua orang tua, namun jika seorang anak enggan melaksanakan perintah kedua orang tuanya supaya menserikatkan Allah ia tidak mendurhakai kedua orang tuanya, walaupun pada lahirnya ia bermaksiat, sebab perintah kedua orang tuanya adalah perintah yang bertentangan dengan syariat.

3) Membunuh seseorang tanpa alasan yang dibenarkan
Allah menciptakan makhluk-Nya dengan segala hal dan kewajiban-Nya, termasuk hak untuk hidup, maka seseorang diharamkan untuk membunuh orang lain.
4) Saksi palsu
Islam mengajarkan kepada kita agar selalu bersifat jujur, karena dengan kejujuran itulah hidup kita akan tenang dan tentram, tidak dikejar-kejar rasa takut.
Sebuah kesaksian palsu dapat merugikan orang lain, orang yang seharusnya bersalah bebas dan yang seharusnya tidak bersalah menjadi terpidana.
Dalam al-Qur’an telah banyak ayat yang senantiasa mengajarkan pada kita untuk mengatakan apa yang kita ketahui diantaranya Ash-Shaf ayat 2
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لاَ تَفْعَلُونَ {الصف : 2}
Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan
Atau sabda Rasulullah SAW
قُلِ الْحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًا {رواه البخارى ومسلم}
Artinya : “katakan yang benar sekalipun itu pahit”
2. Taubat
a. Pengertian taubat
Taubat adalah meminta maaf atau mohon ampun kepada Allah dari perbuatan dosa yang telah kita lakukan.
Adapun cara bertaubat diantaranya :
1) Harus menghentikan maksiat
2) Harus menyesal atas perbuatan yang telah dilakukan
3) Maksimal bersungguh-sungguh tidak mengulangi perbuatan tersebut
4) Meminta maaf kepada orang yang bersangkutan, apabila dosanya sesama manusia.
b. Anjuran untuk beristighfar
عَنْ أَبِى بُرْدَةَ عَنْ رَجُلٍ مِنَ الْمُهَاجِرِيْنَ يَقُوْ لُ سَمِعْتُ النبي صلى الله عليه وسلم يقول يَاآيُهَـاالنَّاسُ تُوْبُوْا إِلَىاللهِ وَاسْتَغْفِرُوْ هُ فَإِنِّى اَتُوْبَ اِلَىالله وَاسْتَغْفِرُهُ فيِ كُلِّ يَوْمِ مِائَةَ اَوْ اَكْثَرَ مِنْ مِائَةَ مَرَّةِ {رواه احمد في مسند الكوفين}
Artinya : “Dari Abi Burdah dari seorang laki-laki dari sebagian sahabat Muhajirin beliau mengatakan kami telah mendengar Nabi Muhammad bersabda “Wahai ingatlah manusia, bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah dan mohonlah pengampunan kami sekalian kepada-Nya, maka sesungguhnya kami bertaubat kepada Allah dan kami mohon pengampunan kepada-Nya pada tiap hari 100 kali atau lebih”
Manusia adalah insan yang tempatnya salah dan lupa, banyak kesalahan yang kita lakukan, baik secara sengaja maupun tidak, kita sadari atau tidak. Sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah segera minta maaf, oleh sebab itu menurut hadits di atas kita dianjurkan untuk beristighfar 100 kali atau lebih.
Membiasakan hidup dengan senantiasa zikir kepada Allah, akan membawa ketenangan hari serta terjaga dari sikap dan tutur kata yang buruk, karena lisan kita telah terbiasa berkata yang baik, yaitu kalimat thayyibah dan hati kita senantiasa mengakui kesalahan dan kelemahan kita, sehingga kita menjadi orang yang rendah.
c. Bertaubat kepada Allah
َبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي إِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
Artinya : “Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW bersabda : Allah yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Aku menurut dugaan hambaku kepadaku, dan Aku bersamanya ketika ia ingat kepadaku, Demi Allah, sungguh Allah lebih suka kepada taubat hamba-Nya daripada salah seorang diantaramu yang menemukan barangnya yang hilang di padang. Barang siapa yang mendekatkan diri kepadaku sejengkal, maka Aku mendekatkannya sehasta, dan barangsiapa mendekatkan diri padaku sehasta, maka Aku mendekatkan diri padanya satu depa, dan barang siapa yang mendekatkan diri kepadaku dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari.
Adapun maksud dari hadits di atas adalah Allah selalu bersama hamba-Nya dengan rahmat, pertolongan, petunjuk, dan pemeliharaan kepedulian, dan barang siapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan taat, Allah akan memberinya rahmat, taufiq dan pertolongan. Jika ia menambah dalam bertaat maka Allah menambah taufiq dan rahmat-Nya. Jika hamba datang dengan berjalan dan segera bertaat maka Allah akan melimpahkan rahmat yang amat banyak.
Allah menyukai hamba-Nya yang bertaubat meskipun taubat tersebut terlambat.
عَنْ عَبْدِ اللهِ عُمَرَ عَنِ النَّبي صلىالله عليه وسلم إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَقْبَلَ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَالَمْ يُغَر غرً {اخرجه ابن ماجه في كتاب الزهد}
Artinya : “Dari Abdillah bin Umar dari Nabi SAW bersabda sesungguhnya Allah yang maha tinggi, dan agung, pasti akan menerima taubat-Nya seorang hamba selagi hamba itu belum sekarat.
Dari hadits tersebut nyatalah bahwa Allah adalah maha pengampun, Allah mengampuni dosa hamba-Nya yang bertaubat sekalipun taubat tersebut terlambat asalkan belum sekarat.

C. KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan :
1. Menurut Abu Hurairah dosa-dosa besar itu ada 7 macam
2. Menurut Anas dosa besar itu ada 4 macam
3. Kita dianjurkan untuk senantiasa beristighfar dan mengingat Allah
4. Allah gembira terhadap hamba-Nya yang bertaubat
5. Allah menerima taubat seorang hamba selagi ia belum sekarat.

D. PENUTUP
Manusia akan sulit untuk terhindar dari dosa kecil sekalipun sebaik-baiknya orang yang berdosa adalah segera memohon ampun.


DAFTAR PUSTAKA
Faturrahman, Drs., Haditsun Nabawi, Menara Kudus, 1966.
Zuhri, Muhammad, Drs. Kelengkapan Hadits Qudsi, CV. Toha Putra, Semarang, 1982
As’ad Aliy, Drs., Fathul Mu’in, Menara Kudus, 1979.